Untuk Ayah dan Ibu: “Jangan tolong aku saat tenggelam, tapi ajari aku cara berenang.”

ayah ibu anak
Image Credit : naturallypeaceful.com

Ayah, Ibu, terima kasih, selama ini telah menyayangiku.

Aku masih ingat, bagaimana ibu pada pagi buta itu berjibaku memasak, dan menyiapkan segala hal agar aku bisa tenang serta sarapan dengan nikmat sebelum berangkat ke sekolah. Ibu memandikanku, memakaikan aku celana dan baju, mengolesi mukaku dengan bedak, dan menyuapiku dalam keadaan peluh-peluh yang terus mengucur pada jidat, lalu satu per satu menetes jatuh ke lantai.

Aku juga masih ingat, suatu hari setelah sarapan, dengan entengnya aku meminta uang saku kepada Ayah, lalu menyodorkan kartu SPP dari sekolah, tanda bahwa waktu membayar telah tiba. Sepasang mata pada kepalaku menatap dengan jelas, ketika itu Ayah merogoh kedua kantong celananya dan tak menemukan uang sepeser pun. Kemudian, Ayah bilang ‘tunggu nak’ sambil lari ke belakang rumah. Aku kira, waktu itu Ayah akan mengambil uang. Ternyata tidak. Ayah ternyata mengambil beberapa telur di kandang ayam, dan mengajakku untuk menjualnya kepada tetangga, lalu uang hasil dari penjualan itu dipakai untuk membayar uang sekolah serta uang sakuku hari itu.

Ayah, Ibu, terima kasih, selama ini telah menyayangiku.

Aku selalu senang dengan kesediaan Ayah dan Ibu untuk selalu ada dalam apa pun keadaanku. Seperti saat itu, ketika aku masih SMA dan ada acara berkemah, reguku menugaskanku untuk membawa bamboo untuk pathok, beserta kayu bakar untuk api unggun. Tak perlu waktu lama, Ayah langsung pergi ke hutan, mencarikan aku kayu-kayu, dan memotongkan bambu-bambu.

Aku juga selalu ingat, bagaimana sibuknya Ibu, bila aku berkata bahwa minggu depan aku berangkat piknik, Ibu akan cepat-cepat mengumpulkan uang, untuk membelikanku baju-baju, membekaliku makanan banyak sekali, sampai-sampai uang saku dari Ayah tak pernah aku pakai untuk jajan gara-gara saking banyaknya bekal makanan dari Ibu. Pun, aku juga menjadi malas membeli baju baru di tempat wisata, karena telah Ibu belikan sebelumnya.

Begitu tidak inginnya Ayah dan Ibu melihatku menderita, melihatku sedikit saja sengsara, sampai-sampai apa pun yang menjadi kebutuhanku, kendalaku, maka Ayah dan Ibu akan menjadi juru solusi yang segera menyelesaikan seluruh masalahku.

Ayah, Ibu, terima kasih, selama ini telah menyayangiku.

Jujur, aku senang dengan bantuan-bantuan semacam itu. Tetapi, lambat laun aku mulai berpikir, bahwa rupanya aku tak setangguh teman-teman seusiaku. Aku lemah. Bahkan melakukan hal sepele seperti memasak nasi goreng pun aku tak bisa. Sementara, teman-temanku telah jago melakukannya sejak usia belia, dan kini sanggup memasaknya bahkan dengan menutup mata. Ya, di luar kepala. Mereka mahir sekali, Ayah, Ibu.

Sekarang, aku sudah tak lagi anak-anak. Sedangkan perlakuan Ayah dan Ibu kepadaku, masih sebagaimana ketika aku kanak-kanak. Kadang, aku senang saat Ayah dan Ibu menawarkan bantuan kepadaku. Namun setelahnya, aku pasti menyesal, dengan mengutuk diri sendiri:

“Mengapa tak kau kerjakan sendiri, heh? Kapan kau akan mandiri, heh?”

Sesal itu datang dan datang lagi. Karena sungguh, aku tak tega menolak setiap bantuan demi bantuan yang engkau tawarkan. Sementara di sisi lain, aku juga tak ingin melihat mata Ayah dan Ibu berkaca-kaca, lalu hidung sembab, hanya gara-gara aku menolak bantuan dari Ayah dan Ibu.

Ayah yang aku cintai, dan Ibu yang aku sayangi, anakmu ini sekarang sudah dewasa. Biarkan saja aku menantang dunia. Izinkan aku mengatasi masalah-masalahku sendiri. Bukankah hal paling pahit di dunia ini adalah berharap kepada manusia? Lantas, mau sampai kapan aku akan terus-menerus berharap kepada Ayah dan Ibu agar bersedia mengatasi seluruh masalahku?

Ayah, Ibu, terima kasih, selama ini telah menyayangiku.

Diam-diam, aku mulai memerhatikan bahwa ternyata Ayah dan Ibu adalah manusia-manusia yang tangguh menjalani hidup. Aku kagum akan hal itu. Bahkan, aku ingin mengikuti jejak Ayah dan Ibu.

Ayah, Ibu, ajari aku bagaimana hidup mandiri. Ajari aku bagaimana menanak nasi, bukan hanya langsung makan nasi. Aku tahu, sekali waktu nanti pasti akan gosong, tetapi aku sedang belajar. Tolong dimaklumi. Karena setelahnya, aku akan berjanji, esok hari, ketika kembali menanak nasi, tak akan gosong lagi.

Ayah, Ibu, ajari aku bagaimana menghasilkan uang. Bukan bagaimana menghabiskan uang. Aku tahu, mungkin itu akan berat. Bahkan bila otak tak bisa diandalkan, maka satu-satunya jalan ialah memberdayakan badan. Tetapi, tidak apa-apa. Aku akan lebih puas kalau isi dompetku adalah hasil dari keringatku. Bukan hasil menodong Ayah dan Ibu.

Ayah, Ibu, biarkanlah aku dihadang oleh masalah. Saat benang tengah kusut, biarkan aku yang menguraikannya sendiri. Atau kalau aku belum bisa, bolehlah Ayah dan Ibu menggunakan benang kusut yang lain, lalu menunjukkannya kepadaku bagaimana menguraikannya. Tapi jangan bantu aku kala berada dalam kebingungan. Biar aku pecahkan sendiri.

Ayah, Ibu, jangan tolong aku saat tenggelam, tapi ajari aku cara berenang.