Hal-hal yang akan kamu peroleh apabila bersedia memaafkan kesalahan orang lain

memaafkan
Image Credit : www.kaskus.co.id

Sadar atau tidak sadar, diakui maupun tidak, setiap manusia yang terlahir ke dunia kemudian akan menjadi makhluk sosial. Artinya, manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain, baik itu secara langsung, melalui telepon, pesan teks, maupun melalui sosial media dengan beragam platform seperti sekarang ini.

Dalam perkembangannya, mau tidak mau manusia harus meningkatkan kebutuhan berkomunikasi dan berinteraksinya dengan manusia yang lain, yakni dalam bentuk kelompok. Bisa berupa komunitas, organisasi, kelas, perusahaan, keluarga, grup-grup di dunia maya, dan banyak lagi. Nah, kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut dengan zoon politicon. Istilah manusia sebagi zoon politicon itu memiliki arti bahwa manusia sebagai binatang politik, dan pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles. Sebentar… sebentar… setelah dikatain ‘binatang politik’ tetap santai ya. Enggak usah langsung naik darah. Enggak usah emosi. Apalagi sampai berniat ingin membakar Aristoteles. Percuma! Soalnya Aristoteles juga udah meninggal sejak tahun 322 SM di Khalkis, Yunani. Jadi, tetap santai dan baca lagi penjelasan istilah tersebut.

BACA JUGA : Fakta-fakta mengapa kebahagiaan akan lebih banyak datang kepada orang yang rajin memberi

Sebagai informasi saja bahwa zoon politicon itu hanya sebagai penyebutan istilah dalam teori saja. Kalau dalam dunia yang lebih populer, istilah tersebut memiliki makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas. Contoh-contohnya, tadi sudah dijabarkan di atas, ya. Jadi jangan males buat scrol ke atas dan mencari contoh-contoh organisasi apa saja yang ada di dunia ini, baik organisasi secara online maupun offline. Dalam bukunya yang berjudul ‘Social Psychology’ H. Booner memberikan rumusan interaksi sosial bahwa:

Interaksi sosial adalah hubungan antar dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.

Nah, dari definisi yang dijabarkan oleh H. Booner dalam bukunya itu saja, sebetulnya kita semua sadar bahwa ada berbagai kepastian yang diperoleh akibat dari interaksi: teman jadi kekasih, kekasih jadi jodoh, teman jadi saudara, sementara yang saudara asli malah berakhir jadi teman yang kadang disapa dan kadang tidak. Lalu kepastian lainnya yang diperoleh ialah: perdebatan atau adu mulut yang semua itu membuat satu sama lain menjadi saling bermusuhan. Padahal, sebetulnya manusia bisa menghindarinya. Atau kalau sudah terjadi, mengatasinya dengan cara bermaaf-maafan. Hal ini harus dilakukan tanpa menunggu momen lebaran. Karena, ada banyak sekali hal yang akan diperoleh dari bermaaf-maafan. Apa saja hal-hal tersebut? Tetaplah di sini, karena Kita Muda membedah ini, khusus untuk kamu:

Memaafkan adalah hal yang sederhana, selama ego dikesampingkan. Selain itu, juga memberi manfaat berupa pengurangan stres dan depresi.

memaafkan
Foto : moodpanda.tumblr.com

Sederhananya begini, memaafkan akan membuat emosi stabil. Karena pikiran menjadi tak perlu lagi memikirkan hal-hal yang memang sudah seharusnya dilupakan dan segera beranjak ke permasalahan hidup lainnya. Maka jika enggan saling memaafkan, sama dengan memelihara dendam yang mau tidak mau pasti akan mempengaruhi psikis dan juga emosi. Lalu dampaknya, akan menjadi stres.

Kemudian bila stres menjadi berkepanjangan, alias tak bersedia saling memaafkan, maka itu akan memicu kelelahan mental, dan juga mempengaruhi kesehatan fisik. Reaksi psikologis dan fisiologis atas perubahan situasi yang tidak dapat diterima ini akan merangsang pelepasan hormon kortisol yang memiliki efek merusak tubuh. Akhirnya, jadi sakit-sakitan deh. Nah, tuh, berabe kan jadinya. Mending kalau ada orang lain salah ke kamu, langsung dimaafkan saja. Termasuk, kalau ada mantan yang bersalah karena dulu meninggalkanmu dan memilih orang lain, padahal kamu pas lagi sayang-sayangnya.

Bila stres dan depresi sudah bisa kamu atasi, maka kamu akan terhindar dari penyakit yang berpotensi menyerang otak.

Cuma gara-gara enggak mau memaafkan, seseorang bisa stres karena masih menyimpan dendam kesumat kepada seseorang. Amarah terpendam yang mengakibatkan stres itu akan melepaskan hormon glukokortikoid dalam otak, yang secara bertahap akan melemahkan sel-sel dalam otak.

Dampak lainnya, komposisi otak pun juga akan terenggut. Hal itu akan menjadikan daerah hippocampus pada otak menyusut, sehingga seseorang akan sulit untuk berkonsentrasi, mengingat sesuatu dan merencanakan segala sesuatu.

Kalau kamu mengalami beberapa dampak tadi, coba introspeksi, apakah ada mantan yang belum kamu maafkan?

Melakukan tindakan sesederhana seperti memaafkan, berarti kamu telah berpartisipasi aktif dalam melindungi jantung agar tetap sehat.

Salah satu ahli jantung bernama Chauncey Crandall, MD mengemukakan begini:

Masyarakat sepertinya lupa bahwa stres merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung.

Kalau membaca poin di atas yang Kita Muda sampaikan, bahwa memendam amarah bisa menyebabkan stres, maka bila mengaitkan dengan ucapan Chauncey Crandall, MD pada poin ini, berarti bersedia memaafkan sama dengan menjaga jantung kamu agar tetap sehat. Jadi, sudahlah, maafkan saja mantan kamu yang sekarang sudah berbahagia dengan kekasih barunya itu. Karena bahkan sekaliber Mantan Presiden AS, George W. Bush saja terkena penyakit jantung loh. Tentu kalau beliau penyebabnya bukan gara-gara enggak mau memaafkan mantan, seperti masalah yang sedang kamu hadapi sekarang ini. Namun efek stresnya beliau alami saat masih menjabat sebagai presiden. Maklum lah ya, Amerika itu Negara besar, yang diurusin juga banyak. Jadi wajar kalau sampai stres dan menderita penyakit jantung. Yang lucu itu malah kamu. Kan, yang diurusin cuma mantan? Masa ya mau, stres dan akhirnya menderita penyakit jantung hanya gara-gara satu orang. Atau jangan-jangan mantan kamu banyak, melebihi jumlah penduduk Amerika Serikat yang menurut sensus tahun 2015 lalu ada 321.034.355 penduduk?

Kalau saja kamu bersedia memaafkan, hubunganmu dengan manusia lain akan terjalin dengan baik. Dampaknya, kamu menjadi lebih sehat secara jiwa dan raga.

persahabatan
Foto : www.thinglink.com

Sehat secara raga? Sepertinya tidak perlu lagi untuk dijelaskan, karena ini berarti kebalikan dari risiko-risiko buruk pada poin-poin di atas. Yang jelas, kamu tidak akan mengalami stres dan depresi, terhindar dari penyakit yang berpotensi menyerang otak, serta memiliki jantung yang tetap sehat. Ini doa baik, jadi tolong di-aamiin-i dahulu sebelum memutuskan untuk melanjutkan membaca.

Sudah mengucap ‘Aamiin’ belum? Perlu mengklik ‘Like’ atau ‘Retweet’ atau ‘Regram’ juga enggak, biar kayak Mario Teguh kalau lagi posting di sosial media? Perlu atau tidak, tulisan ini tetap akan lanjut.

Apabila kesalahan orang lain sudah bisa kamu maafkan, besar kemungkinan kamu akan menjadi orang yang berbahagia. Secara otomatis, sebagaimana tubuh dan pikiran bekerja, rasa bahagia yang kamu ciptakan itu akan menurunkan kadar hormon stres. Penat dalam tubuh juga bisa lepas jika kamu memilih untuk menjadi orang yang berbahagia.

Tak hanya itu, berbahagia juga bisa membuatmu terhindar dari kram. Kan, stres bisa menyebabkan berbagai masalah, termasuk kram otot. Karena ketidaksediaan memaafkan yang menjadikan stres bisa menimbulkan rasa sakit yang kronis di bagian punggung bawah, belakang leher, dan bagian tubuh lainnya. Selain itu, memilih untuk menjadi manusia yang berbahagia juga bisa mengurangi rasa lelah. Karena ketika kamu merasa bahagia, akan ada hormon yang terus memacumu agar terus bersemangat. Sehingga kamu akan merasakan dorongan energi baru yang terus muncul.

Untuk mengakhiri artikel ini, Kita Muda akan mengutip quotes yang tertulis dalam buku ‘The Passionate State of Mind’, sebuah buku karya Eric Hoffer yang terbit pertama kali pada tahun 1955. Terbitnya tepat ketika Bapak atau Ibumu lahir. Atau mungkin, Kakek dan Nenekmu? Begini quotes tersebut:

The search for happiness is one of the chief sources of unhappiness.

Jadi, kebahagiaan itu enggak ada di mana-mana. Sungguh. Karena kebahagiaan, sejatinya ada dalam dirimu sendiri. Kamu bisa memilikinya bila mulai hari ini kamu bersedia melakukan sebuah hal sederhana: memaafkan 100% orang-orang yang pernah membuat salah denganmu, atau meminta maaf secara tulus jika kamu adalah pihak yang salah. Selamat mencoba!