Surat cinta untuk anak ayah yang mengaku dewasa

hari ayah nasional
Image Credit : plusquotes.com

Ingatkah waktu dulu kamu sering merengek minta ini itu di usia 5 tahun?

Aku tak mau susu aku mau Ayah!

Ayah mandikan aku!

Ayah tanganku kotor!

Ayah aku main air.

Ayah apakah ini berbahaya?

Gendong aku lebih tinggi aku ingin menyentuh pelangi.

Bacakan aku sebuah cerita yah!

Buatkan aku ayunan dan rumah pohon. Kapan yah, kapan?

 

Diusiamu yang ke-10 masih saja suka merengek.

Ayah kenapa bumi berputar?

Ayah potong poniku lalu sisirlah..

Ayah itu pohon apa?

Ayah itu bintang apa?

Mari menanam Ayah, mari pelihara kucing..

Ayo bersepeda seperti biasanya…

Mainanku rusak, Ayah bisa perbaiki ini?

Ayah aku sakit 🙁

Kenapa aku tidak boleh makan permen dan coklat?

 

Sekarang kamu sudah 23 tahun. Tak terasa menjadi anak yang lebih dewasa, segala tingkah lakumu berubah. Rengekan dan tangisan sudah menghilang bahkan sering kali kamu sudah pandai berbicara dan mendebat ucapan Ayah. Kemampuan mendengar Ayah sudah mulai menurun.

 

Aku bisa jaga diriku sendiri…

Ayah, aku ingin hidupku sendiri. Aku sudah 23  tahun..

Ayah, jangan bersikap kekanakan aku butuh ruangku sendiri.

 

Meskipun banyak orang mengatakan hari ini adalah hari Ayah, justru ini bukan kesempatan untuk anak Ayah mengutarakan isi hati, biarkan Ayah yang memulai…

 

Yang ingin Ayah sampaikan adalah…

Bertahanlah, setiap yang Ayah lakukan karena Ayah menyayangimu. Rasa cinta Ayah kadang berlebihan seakan tak ingin dirimu disentuh orang lain kecuali Ayah.

Kuperbolehkan kamu menangis karena larangan Ayah, kuperbolehkan dirimu marah pada Ayah. Kenapa? Karena Ayah masih ragu, Ayah masih belum siap meyakinkan diri jika tanpa Ayah dirimu akan baik-baik saja.

Semakin melihatmu dewasa Ayah semakin takut untuk melepasmu ke dunia. Ayah takut jika tangan-tangan ini tak bisa menggandengmu lagi. Tak bisa hadir jika anak Ayah memanggil.

Ayah masih ingin membimbingmu, memberimu sisi lain dari dunia ini. Selamanya, selama Ayah masih disini. Meskipun sekarang kulit ayah sudah keriput dan banyak uban yang mengakar di kepala.

Pernahkah kamu beripikir bahwa sampai saat ini Ayah masih belajar memahami anak Ayah? Memahami generasi yang berbeda, belajar tentang apa itu dunia online dan segala hal tentang smartphone dan video call demi menghubungimu yang sekarang jauh di sana.

Diusia ke 54 tahun ini, bagiku kamu adalah berlian yang masih perlu dijaga, batu intan yang mengalahi bintang.

Sosokmu saat pertama kali keluar dari rahim Ibumu membuat Ayah lemas mati gaya. Ayah ketakutan setengah mati karena dirimu terlahir sebagai anak Ayah, sosok manusia yang sangat Ayah idamkan.

Dulu Ayah bingung ingin mendidikmu menjadi apa? Tubuhmu yang mungil dengan tangisan yang melengking mengharukanku.  Takut tak bisa menjagamu, takut jari jemari Ayah yang mahakasar ini melukai setiap detail kulit halusmu.

Daripada tangan kasar Ayah melukaimu, lebih baik Ayah sibuk banting tulang untuk memberimu ini itu yang sering kamu rengekkan.

Kulit lembut seperti ibumu, mata tajam seperti Ibumu. Semua mirip ibumu, dan hanya senyumanmu yang senada denganku. Ya, kamu masih anak Ayah yang membanggakan.

Pernah sekali, ketika dirimu sakit Ayah tak segan mengajak dokter berkelahi sebab dokter tak cukup mengatasi sakit yang kamu derita. Ayah memanjakanmu tiada tara agar kamu bisa menggelayut dipundak Ayah.

Sering Ayah merasa cemburu dibuatnya karena dirimu sudah mulai mengenal teman-teman baru, kegiatan baru dan pekerjaan baru. Kamu jadi sering melupakan Ayah. Tak ada waktu untuk diajak bersama. Sudah jauh dari rumah mencari kebahagiaan sendiri. Apalagi disaat kamu sudah mulai mengenal CINTA.

Ayah merasa tersaingi. Entah kenapa sampai sekarang diusiamu yang ke 23 Ayah tak pernah rela jikalau pada akhirnya kamu harus dimiliki orang lain. Tapi hari itu akan terjadi juga, hari dimana Ayah mulai menjabat tangan seseorang yang itu adalah kekasihmu.

Kamu mulai berpikir untuk meninggalkan Ayah dan Ibu dalam ikatan pernikahan. Nak, meskipun Ayah sosok pria yang tangguh dimatamu tapu sekarang Ayah mulai menitikkan air mata. Tak ingin membayangkan ini semua terjadi, aku ingin kamu yang dulu, kamu yang selalu merengek minta digendong dan minta susu.

Jika kamu menghitung ada sekitar 50 lebih kata ‘Ayah’ dalam tulisan ini, sebelas dua belas dengan umur Ayah. Itu membuatku sedikit geli menulisnya karena Ayah tak pernah melakukan ini sebelumnya. Mengutarakan perasaan ke dalam tulisan.

Tapi apapun yang terjadi pahamilah, dengan surat ini Ayah sungguh-sungguh menyayangimu tanpa batas 🙂 .

Teruntuk anakku yang mengaku DEWASA.

***

Note : Ketika kamu sudah baca tulisan ini, tak adakah sedikit rindu untuk mengunjungi Ayah di kampung halaman?

 

SELAMAT HARI AYAH NASIONAL