Untuk ibunda yang selalu menjaga dan berjuang buatku

ibu-tua
Image Credit : imroatulmasudah.blogspot.co.id

Bunda, bagaimana kabarmu hari ini ?

Semoga engkau baik-baik saja dan akan selalu baik-baik. Terima kasih bunda engkau telah menjagaku sejak aku kecil hingga sebesar ini, bahkan jauh sebelum itu, engkau menjaga dan merawatku selama masih di dalam rahimmu.

Bunda, masih ingatkah dengan tanggal lahirku?

Itu adalah saat dimana engkau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan seorang bayi yang kini sering menyusahkanmu.

Bunda, masih ingatkah berapa liter keringat yang kau kucurkan, atau bahkan darah yang terus menerus mengalir demi menahan rasa sakit saat si bengalmu ini berontak ingin keluar dari rahimmu yang nyamanmu itu?

Itu adalah perjuangan terbesarmu bunda, perjuangan yang sampai kapan pun dan dengan apa pun tak kan mampu aku balas dengan nyawa ku sekalipun.

Untuk ibunda yang selalu menyangiku

Sebaik-baiknya kasih sayang, tentulah kasih sayang darimu bunda.

Engkau rela membagi waktu sibukmu demi mengganti  popokku yang sudah basah oleh air seniku, bahkan tak ada rasa jijik sedikitpun yang kau tampakan di wajah caktikmu itu.

Engkau rela terbangun dari tidurmu, karena tahu si bengal kecilmu mendadak suhu badanya naik karena tak kuat menahan jahatnya cuaca di dunia ini, dan bahkan  terus menerus merengek seakan membuatmu merasa cemas,  atau terkadang sampai pagi engkau menahan ngantuk demi menjagai ku yang seakan tak rela lepas dari pelukanmu.

Engkau pun rela tak tampil cantik di hadapan suamimu demi mengasuh aku yang senantiasa ingin dimanja oleh kasih sayangmu.

Untuk ibunda yang saat ini jauh dariku

Bertahun-tahun kau merawat dan mendidik aku, dari yang biasanya hendak makan harus menunggu uluran tanganmu, dari yang biasanya mau tidur harus menunggu timang-timang darimu.

Kini si bengalmu sudah tumbuh dewasa dan memutuskan untuk jauh darimu, demi masa depan dan harapannya sendiri.

Namun sekali lagi bunda, kasih sayangmu tak pernah pudar walau jarak kini telah memisahkan kita. Engkau selalu menanyai kabar dan keadaanku, walau terkadang aku lupa untuk sekedar bertanya “Apa kabar bundaku?”

Sedih bunda, … sedih !

Selama aku hidup, belum pernah sekalipun memberi kebahagiaan kepadamu, hanya duka dan kesedihan yang selalu engkau rasakan atas perbuatanku yang keterlaluan, atau bahkan air mata yang terus  menerus menetes dari kedua mata yang tak berdosamu itu, karena melihat si bengalmu yang kelakuannya melebihi seorang pecundang.

Dan teruntuk ibunda yang semakin renta karena termakan usia

Kini aku sudah dewasa bunda, dan itu tandanya engkau juga sudah semakin renta. Engkau sudah tak layak lagi untuk menangisi kebodohanku.

Cukup bunda, … cukup !

Kali ini jangan kau basahi wajah tuamu lagi, namun jika kau masih ingin menangis, aku ingin mengusap air matamu itu bunda, aku ingin mengusapnya dengan kebahagiaan, kebahagiaan yang akan menyertai hari-hari tuamu.

Tuhan, berikanlah kami umur panjang, janganlah kau memisahkan kami dahulu, sebelum aku dapat membahagiakannya. Kali ini aku berjanji Tuhan, akan aku buat senyum indah selalu menghiasi wajah tuanya.

Kalau pun masih ada lagi tangisan darinya, aku pastiakan itu adalah tangisan kebahagiaan.