Untukmu yang terus didera masalah, berdoalah! Tuhan tak akan bosan menggenggam dan menjawab doa-doamu

gadis-berdoa

Manusia dan masalahnya adalah dua hal yang lazimnya menyertai selama nadi masih berdenyut. Terpaan masalah yang datang silih berganti membawa manusia pada satu pemahaman bahwa semakin bertambahnya umur, semakin besar pula bobot masalah yang dihadapi.

Ada deretan hari-hari yang harus dilewati dengan tabah. Sementara isi kepala nyaris terus berdenyut hebat memikirkan masalah yang dihadapi. Tak pantas lagi rasanya bila harus berandai-andai untuk bisa kembali ke dunia masa kecil yang masih begitu sederhana dan lugas. Ketika hanya ada kebahagiaan dan keceriaan.
Ini yang harus dihadapi. Dunia yang tak hanya hitam dan putih. Ada warna-warna lain. Kita yang harus bisa peka mengartikannya. Memastikan diri tetap berjalan didalam koridor. Ketika umur terus bertambah dan kita pun dituntut untuk semakin dewasa. Tentu dengan porsi tanggung jawab jauh lebih besar.

Ketika masalah datang menerpa rasanya dunia berubah menjadi suram. Langkah kaki pun tiba-tiba terasa kian berat. Manusia yang digelayuti masalah yang tak kunjung rampung akan melihat dunia dengan pandangan pesimis. Entah kemana perginya harapan-harapan yang sebelumnya telah tertata begitu apik.

Manusia dibekali naluri untuk bertahan. Termasuk mempertahankan kebahagiaan yang dulu sempat dicecap. Berbagai daya upaya dikerahkan. Otak terus berputar, memikirkan solusi apa yang kiranya bisa menyelesaikan masalah itu. Satu persatu solusi dicoba dengan penuh keyakinan. Tak semudah itu. Nyatanya hidup memang penuh perjuangan.
Ada saatnya manusia terduduk kelu. Lelah dengan hari-hari yang telah dihadapi. Deretan hari yang begitu mengurus tenaga dan pikiran, sementara masalah kian menghimpit. Jeda untuk bernafas lega pun kian sulit didapat. Ingin rasanya menyerah. Membiarkan waktu membawa arah kehidupan. Namun, lagi-lagi hati kecil tak mau menerimanya. Dia memintamu untuk terus berjuang. Menekan rasa lelah yang kian merajam batin.

Dengan tertatih kamu meneruskan perjuanganmu. Berjibaku menyelesaikan masalahmu. Sesekali rasa letih mengampirimu, namun kali ini kamu telah bertekad untuk menguatkan hati. Kamu tak akan menyerah lagi semudah itu.

Sementara di luar sana, kau melihat rekan-rekanmu telah begitu bahagia dengan kehidupannyanya. Cerita bahagia selalu terlontar dari mulut mereka. Kamu jarang sekali melihat wajah mereka dengan raut kusut. Kamu mulai berpikir, mereka sangat beruntung, memiliki hidup yang nyaris tanpa masalah.

Kamu masih berjibaku dengan masalahmu. Tak bisa dihindari, entah telah beberapa kali kamu merasa lelah dan hampir menyerah. Egomu sebagai manusia membuatmu merasa mampu meyelesaikan masalahmu sendiri. Kamu tak butuh bantuan dari siapapun bahkan apapun. Kamu merasa memiliki kompetensi berlebih untuk menyelesaikan masalah dan membuat hidupmu kembali nyaman.

Nyatanya kali ini kamu salah. Waktu terus berjalan. Masalahmu tak kunjung selesai, malah kian melebar. Kamu mulai meragukan kemampuanmu menyelesaikan masalahmu. Duniamu terasa kian sempit. Bahkan beberapa target hidup yang telah direncanakan pun harus tertunda. Untungnya sejauh ini kamu tetap mampu bertahan. Sebuah hal yang seharusnya disyukuri.

Seiring berjalannya waktu. Kesadaran itu mengetuk hatimu. Kesadaran yang mengajakmu untuk pulang. Kembali pada awal segala sesuatu, pada Sang Pencipta segala di dunia ini. Kembali pada Tuhan yang menggenggam segala urusan di tangannya dengan mudah. Termasuk juga masalahmu.

Berdoalah dengan sepenuh jiwa pada Tuhan. Biarlah dia menggenggam dan menjawab doa-doamu. Dia akan menjawab doamu. Memberikan jawaban terbaik untuk doa dan hidupmu. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Setelah itu biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Sederhana bukan? Sesederhana jawaban untuk setiap masalahmu.

 

Image credit : faith-outreach.org