Meski takdir tak menghendaki kita bersatu, namun pernah bersamamu adalah sebuah anugerah terindah bagiku

pasangan

Kita bisa, memiliki keinginan berupa: aku mencintaimu, dan aku sangat ingin hidup bersamamu hingga renta. “Sampai jadi debu,” kalau kata Banda Neira, band yang digawangi oleh Ananda Badudu dan Rara Sekar. Iya, mereka baru saja mengumumkan bahwa Banda Neira bubar. Duh, jadi bikin tulisan ini makin sendu saja.

Tapi sekali lagi, hal di atas tadi hanyalah keinginan. Semua orang berhak berkeinginan. Namun kenyataan yang merupakan hasil dari peluh-peluh tatkala merapal doa dan berupaya, tak pernah menjadi hal yang terwujud mulus sebagaimana kehendak atas keinginan. Hal ini berlaku untuk banyak hal, termasuk menginginkan pasangan. Kita selalu berhak menentukan, namun tak kuasa mengatur laju kenyataan.

1. Mula-mula, masing-masing dari kita hanya murni saling tertarik, tanpa peduli kurang dan lebihnya.

cewek
Foto : YouQueen.com

Tidak ada yang pernah bisa mengendalikan rasa. Mengenai asmara, aku bisa saja menyatakan suka terhadapmu. Namun bila engkau tak merespons balik perasaanku, aku bisa apa?

Ya, begitulah rasa.

 

BACA JUGA: 5 Perbedaan ketika cowok sedang PDKT dan ketika sudah pacaran

 

Untuk orang yang sedang menjalin hubungan denganku, hubungan kita disepakati oleh adanya kesamaan rasa. Aku tertarik padamu, dan engkau pun demikian. Dalam diriku, sedikit pun tak ada kepedulian tentang kurang atau lebihmu. Karena permulaan itu hanyalah sesederhana ucapan: “Aku tertarik denganmu, itu saja! Tidak rumit dan tidak ribet!”

2. Setelah memutuskan untuk bersama, lalu menyadari apa yang kurang dan lebih, kita justru memaknai itu sebagai pelengkap satu sama lain.

couple
Foto : cbc.ca

Setelah sepakat bersama, perkenalan kita jadi semakin mendalam. Aku mengetahui kurang serta lebihmu, dan begitu pula kamu. Namun karena matangnya landasan masing-masing dari kita, justru kekurangan dan kelebihan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk saling mengisi.

3. Semakin lama, hati kecil kita semakin menyuarakan kemantapannya. Lalu kita pun sepakat menginginkan lebih. Menikah!

menikah
Foto : freshblendmedia.com

Aku sudah lelah berkelana mencari hati. Aku bertekad bahwa bila suatu hari nanti Tuhan mempertemukanku dengan hati yang tepat, aku tak ingin melepasnya.

 

BACA JUGA: Jangan menikah kalau cuma gara-gara diledekin soal usia! Kamu lebih tahu, kapan saat yang tepat!

 

Aku ingin segera mengikatnya dengan janji suci pernikahan.

4. Rupanya takdir tak menghendaki kita bersama. Ia menjelma dalam bentuk manusia yang punya misi untuk menggagalkan penyatuan kita.

via: http://airforcelive.dodlive.mil/

Mula-mula, mereka menolakmu tanpa alasan yang jelas. Mereka tak menghendaki agar hubungan ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hadirnya penolakan di tengah cinta kami yang sedang bersemi, bagaikan petir yang mendadak menyambar tanpa didahului oleh gerimis maupun hujan.

“POKOKNYA KAMI TIDAK SETUJU!” begitulah yang kerap mereka ucapkan pada permulaan. Kadang aku berpikir bahwa mungkin kalian masih sedang dalam proses untuk memikirkan alasan yang membuatku kelak berpikir bahwa itu logis.

5. Tak jarang, mereka meneriakkan argumen tentang hal-hal yang sejak terlahir ke dunia, kita tak diperkenankan memilih.

via: DailySMSCollection.in

Kalian pun kini berhasil menemukan kalimat yang menguatkan argumen demi tercapainya perpisahan kami.

 

BACA JUGA: Memandang Perpisahan Sebagai Sebuah Kesempatan

 

Tak jarang, kalian meneriakkan argumen tentang hal-hal yang sejak terlahir ke dunia, kita tak diperkenankan memilih, seperti agama, ras, warna kulit, Negara, status ekonomi, dan hal-hal lainnya.

6. Jika kelak kita lama berpisah, mohon maaf bila aku memendam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai ialah tentang pemasungan rasa.

single
Foto : msecnd.net

Pada akhirnya, aku tetap mematuhi orang yang melahirkanku, orang-orang yang merawatku, dan orang-orang (yang katanya) punya sumbangsih besar dalam pencapaian hidupku hari ini. Mereka menyodoriku jodoh yang kalau menurut versi mereka: ‘sangat cocok denganku!’ Saat itu, tak henti-hentinya aku membatin: “Lantas, apa bedanya dengan pasangan yang kemarin aku pilih sendiri, pasangan yang tepat menurut versiku? Bukankah masih-masih sedang dalam perjalanan memperjuangkan ego masing-masing?

Kepada kamu yang senantiasa mengendap dalam hatiku yang paling dalam, berbahagialah dengan ia yang kini beruntung mendapatkanmu. Tetapi maafkan aku bila esok atau lusa, aku rindu. Hari ini, saat aku sedang menuliskan ini, aku pun tengah ditikam rindu. Karena hidup bersama orang yang tak kita cintai, bukan berarti dilarang rindu terhadap ia yang sesungguh-sungguhnya kita cintai, bukan?