Jangan menikah kalau cuma gara-gara diledekin soal usia! Kamu lebih tahu, kapan saat yang tepat!

mengadu ke orang tua

Sejak adanya sosial media, pihak-pihak yang gencar mengkampanyekan menikah muda ada banyak sekali. Prosentasenya jauh lebih banyak ketimbang kampanye dari pihak-pihak yang mau ngasih edukasi soal pra-nikah. Karena sekalipun menikah itu anjuran, namun pembekalan bagi mereka yang sudah berada dalam usia siap menikah juga tak kalah penting.

Ketika masih muda, banyak pihak mendesak agar segera menikah, mumpung masih muda. Ketika sudah tua, mereka pun tak henti-hentinya mendesak dengan melancarkan olok-olok semacam:

“Hih, padahal si tetangga baru kita itu, usianya baru 25 tahun tapi anaknya udah TK. Masa kamu yang udah usia 29 masih sendiri aja! Kapan nikah?”

 

BACA JUGA: Jangan salah, bidan tak cuma bisa jaga kesehatan. Kalau kamu menikahinya, ia juga akan menjaga hal-hal ini untukmu

 

Kalau mereka ngatain gitu cuma sekali, apalagi konteksnya bercanda, Kita Muda sih nyaranin ke kamu untuk tetap santai. Tapi kalau frekuensinya udah keseringan, itu orang mending segera ditampol aja sih. Ya bukan apa-apa, karena…

1. Segala sesuatu yang dimulai dengan paksaan, tak akan pernah nyaman. Termasuk pernikahan.

via: newauthors.files.wordpress.com

Kamu pernah merasakan masuk jurusan di sekolah atau ketika kuliah karena dipaksa? Buat yang enggak pernah, mending diem aja. Tapi buat Kawan Muda yang pernah, pasti kamu ngerasain: betapa menyedihkannya hidup di antara orang-orang yang menjalani hidup dengan passion, sementara kamu sendiri menjalaninya dengan paksaan. Kamu akan sering melihat teman-teman sekelasmu mengobrol menggunakan bahasa teknis, membicarakan problem mereka menghadapi pelajaran, sambil ketawa-ketawa, sementara kamu sendiri cuma melongo. Tak paham dengan apa yang mereka perbincangkan. Nyesek? Iya banget. Mungkin beberapa dari kamu ada yang akan berkomentar:

“Awalnya mungkin sakit. Tapi lama-lama pasti enak. Terbiasa!”

Ya, Kita Muda pun tak memungkiri, kalau beberapa ada yang berhasil melewati fase-fase memuakkan itu. Tapi bayangkan mereka yang semula menikah gara-gara paksaan, lalu setelah dijalani bertahun-tahun, rupanya tak cocok-cocok juga. Pengin cerai, tapi pasti jadi buah bibir lagi, sama kayak kemarin pas udah tua tapi belum nikah-nikah. Tapi kalau dipaksain bareng terus, hati makin tersiksa. Teriris. Kalau sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab?

2. Mula-mula, kamu dulu yang penting. Baru ke yang lain, dikompromikan. Kan, kamu, yang kelak menjalani.

via: http://airforcelive.dodlive.mil/

Karena pada akhirnya nanti, apa pun saran dan paksaan dari orang-orang, kamulah aktor atau aktris yang akan menjalani biduk rumah tangga bersama pasanganmu. Tentu, harapannya bisa seumur hidup.

 

BACA JUGA: Hal hal yang akan kamu rasakan setelah menikah, yang orang-orang tak pernah ceritakan!

 

Kalau urusannya sudah seumur hidup gitu, pastikan kamu cukup memfilter semua yang orang-orang sampaikan ke kamu. Kalau itu baik, bisa kamu pakai. Kalau menurutmu tak sesuai, kamu bisa tetap bertahan dengan orang atau argumen yang sudah kamu yakini. Jadi, mula-mula, mantapkan diri dulu. Kalau sudah, minta pertimbangan ke orangtua. Kalau mereka setuju, ya jalan terus. Tapi kalau mereka tak setuju, dan ternyata argumen mereka pun kuat, coba cari jalan tengah. Siapa tahu ada solusi. Kalau ketemu, syukur. Kalau enggak, ya ada baiknya kamu jangan ngelawan orangtua juga. Lepas dia dengan ikhlas, namun tak serta-merta menerima orang yang orangtuamu tawarkan. Tetep, selalu, seleksi lebih dulu. Kalau cocok, lanjut. Kalau enggak, jangan. Pokoknya, sampai ketemu orang yang antara kamu dan orangtua, sama-sama setuju.

3. Menikah itu bukan seperti balap lari, yang kalau duluan berarti dia yang menang. Tapi soal ketepatan.

via: theodysseyonline.com

Kalau kamu sudah terus berupaya, dan tak pernah berhenti berdoa, namun jodoh belum kunjung tiba juga, ya tak perlu kecewa. Kan, tugas manusia hanya berdoa dan berusaha. Hasil itu selalu milik Tuhan. Jadi kalau kamu sudah berdoa dan berusaha, tapi belum dapat juga, kemudian orang-orang sibuk meledekmu, maka katakan saja pada mereka: “Menikah itu bukan seperti balap lari, yang kalau duluan berarti dia yang menang. Tapi soal ketepatan.”

4. Tuhan memang berjanji mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya yang menikah. Tetapi kamu tetap harus mem-follow up janji-Nya itu dengan upayamu, bukan?

via: Mexperience.com

Menikah dengan modal yakin, tanpa memiliki landasan yang kuat, bisa-bisa perumpamaannya macam orang yang sedang mengadu nasib di perantauan. Dari tanah kelahiran, percaya sekali kalau kelak di kota bakal sukses. Namun setelah sampai di kota, rupanya baru sadar, kalau yakin saja tak cukup. Tapi juga butuh landasan yang kuat sejak sebelum berangkat.

 

BACA JUGA: Mengapa buru-buru menikah? Bukankah yang paling penting adalah bertemu dengan orang yang tepat, dan menikahinya di waktu yang tepat?

 

Tuhan memang sudah berjanji, kalau akan mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya yang menikah. Tapi jangan lupa juga, kalau sebelum menikah kamu juga berkewajiban untuk memiliki bekal diri dan keuangan yang baik. Karena menikah, urusannya bukan melulu soal selangkangan. Namun juga matangnya kepribadian dan siapnya keuangan.

5. Memilih menikah atau menunda dulu, semua ada konsekuensinya. Kalau menikah, harus siap dan mantap. Kalau menunda, harus memantaskan diri.

via: SheKnows.com

Ini adalah bagian akhir dari artikel ini, yang harus bersama-sama kita renungkan. Karena apa pun yang pada akhirnya Kawan Muda pilih, semua memiliki konsekuensi logis. Kalau hari ini Kawan Muda yakin ingin menikah, pastikan siap dan mantap secara lahir serta batin. Kalau memilih untuk menunda dulu, maka sebaiknya, silakan memantaskan diri. Menyiapkan keuangan dan membaikkan pribadi. Lalu kalau kamu bertanya:

“Apakah harus sampai mapan saat memantaskan?”

Jawabannya: tidak! Tapi yang penting, cukup. Kemudian soal pribadi, intinya kamu bisa bertanggung jawab lahir serta batin tadi, bisa memimpin keluarga, dan tanggung jawab lainnya, kalau kamu seorang lelaki. Kalau kamu wanita, selain pribadi, atau kalau mau tambah keuangan juga lebih baik, kamu juga perlu untuk membekali diri dengan hal-hal yang calon ibu harus bisa, seperti: memasak, mencuci, dan pekerjaan-pekerjaan wanita lainnya. Iya, Kita Muda tahu kok, memasak, mencuci, dan lain-lain itu aslinya kewajiban laki-laki. Tapi kalau mereka sedang bekerja, berangkat pagi dan pulang sore, lantas siapa yang akan menyelesaikan itu semua? Bergotong royonglah, hehe.

Jadi gimana Kawan Muda, masih mau nikah kalau alasannya cuma diolok-olok soal usia?