Alasan-alasan dari mereka yang cukup laku, namun memilih untuk menjomblo dahulu

single
Image Credit : Tumblr.com

Kalau ada orang yang secara muka itu cakepnya tertunda, tapi ia menggaungkan tentang kejombloan, atau teriak “jangan pacaran!” ke orang-orang, apalagi sampai mengeluarkan serangkaian hukum-hukum berpacaran, rasa-rasanya kok pengin teriak ke telinga mereka keras-keras:

“HALAH, BILANG AJA, KAMU SOK-SOKAN NGELARANG PACARAN KARENA EMANG ENGGAK LAKU, KAN? NGAKU! HAH? NGAKU!”

Yah, memang beberapa orang ada yang menggunakan kampanye-kampanye anti pacaran itu sebagai tameng ketidaklakuan. Sementara beberapa lainnya ada yang memang betul-betul ingin berjuang, dan paham akan dampak negatif dari pacaran.

Tapi, bagaimana kalau yang berbicara ialah mereka yang umumnya laku, diperebutkan bak piala? Maka melalui artikel inilah Kita Muda ingin menyuarakannya.

1. Mengapa harus menjalani sesuatu yang belum pasti? Apalagi yang prinsipnya: “Jalani aja dulu, siapa tahu cocok!”

via: Lifehack.org
via: Lifehack.org

Yah, begitulah kurang lebih, ucapan-ucapan yang sering cowok gaungkan:

“Jalani aja dulu, siapa tahu cocok!”

Enak aja! Ya kalau cocok. Kalau enggak? Situ sih enak, bisa pergi begitu saja. Lha kalau situ pergi dalam keadaan sini sudah terjajah, kan berabe. Jadi, mending jangan coba-coba deh. Apalagi untuk hal-hal yang memang belum pasti.

2. Pacaran itu rentan khilaf. Kalau memang pacaran belum menjadi sesuatu yang urgent, bukankah lebih baik banyak-banyak berbenah diri?

via: intisari-online.com
via: intisari-online.com

Kalau Kawan Muda sadar bahwa menjalin hubungan pada akhirnya akan diniatkan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius, maka lakukanlah. Namun apabila itu belum jelas, maka tinggalkanlah. Ada banyak hal lain yang harus segera diurusi. Seperti berbenah diri, misalnya.

3. Jodoh itu soal waktu. Bukan tentang siapa yang datang lebih cepat, namun siapa yang hadir lebih tepat.

via: isha.sadhguru.org
via: isha.sadhguru.org

Dunia ini sudah banyak membuktikan, bahwa mereka-mereka yang datang lebih cepat, belum tentu menjadi orang yang paling tepat.

“Yah, begitulah cinta. Deritanya tiada akhir.” – Pat Kay –

Bagaimana untuk menjadi orang yang lebih tepat? Ya jalinlah hubungan kalau memang sudah saatnya. Maka apabila orang yang kamu dekati merasa bahwa “inilah saatnya” juga, tak perlulah berpikir panjang. Sikat saja, sikat!

4. Tak semua perjodohan bermula dari pacaran. Bukankah banyak, yang semula teman dan berakhir di pelaminan?

via: KawankuMagz.com
via: KawankuMagz.com

Kalau kamu beranggapan bahwa pacaran itu hanya buang-buang waktu, maka lebih baik banyak-banyak menempa diri, berbenah pribadi, dan seluas-luasnya menjalin pertemanan. Siapa tahu, salah satu teman kamu ada yang pada akhirnya menjadi jodohmu.

5. Kalau saat ini menurutmu karir itu jauh lebih penting, maka nikmati saja dulu. Jodohnya nanti, kalau karir sudah tercapai.

via: blog.jiji.ng
via: blog.jiji.ng

Berbenah diri itu banyak caranya. Bisa dengan memperbaiki pola pikir, sikap, atau mungkin pekerjaan.

Setelah Kawan Muda mantap memutuskan untuk berkeluarga, cinta pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang nomor sekian. Selanjutnya, yang paling penting ialah: apakah ia bertanggungjawab? Apakah ia pengertian? Apakah ia seorang partner yang baik untuk diajak bersama-sama mencapai visi dan misi yang disepakati?

6. Dari semua alasan di atas, paling enak memang tetap menjadi jomblo. Sembari menanti yang hadir dan mengajak untuk serius.

3

Waktu tak akan pernah kembali. Maka, pilih untuk melakukan hal-hal yang penting dan serius saja. Jangan lagi buang-buang waktu. Kalau orang berpikir bahwa menjadi jomblo itu ngenes, maka yang paling ngenes ialah menjadi jomblo yang tak berkualitas. Karena kalau seorang jomblo itu berkualitas, maka ia lebih layak untuk disebut single. Yakni seseorang yang memang sepantasnya memperoleh jodoh yang memang sama-sama serius.