9 Realita hidup pasca menikah. Kamu yang mau membangun rumah tangga, baca ya…

menikah
Image Credit : freshblendmedia.com

Kehidupan semasa menjalani sebuah hubungan yang belum ada ikatan pernikahan tentu berbeda dengan hubungan yang terjalin pasca menikah. Kesibukan dan prioritas masing-masing tentu berbeda. Itu semua akan berimbas pada bagaimana satu sama lain mewarnai sebuah hubungan.

Berikut ini Kita Muda akan menyajikan kenyataan hidup yang nantinya akan kamu peroleh, dan pastinya beda banget dengan hari-hari ketika kamu menjalin hubungan yang tak resmi. Dan, inilah kenyataan-kenyataan yang nanti akan kamu temui:

1. Tak ada lagi hal yang ditutup-tutupi satu sama lain.

via: Youtube.com
via: Youtube.com

Saat jaman-jaman masih pendekatan, masing-masing berdandan lebih rapi daripada biasanya, lebih wangi daripada biasanya, lebih sopan ketimbang biasanya, lebih rajin daripada biasanya, dan semua yang tadinya buruk diubah sedemikian rupa agar membaik dari menarik hati sang pujaan hati.

Tapi setelah menikah? Semuanya berubah!

Yang tadinya kalau kentut ditahan-tahan, akhirnya los aja. Yang tadinya kalau mau ketemu harus cuci muka dan mandi dulu, kini ngelihat pasangan dalam keadaan baru bangun dari tidur pun bodoh amat. Bebas!

2. Sekalipun saling terbuka, namun tetap harus memiliki rasa saling hormat.

via: womenshealthmag.com
via: womenshealthmag.com

Saling terbuka pada banyak hal, bukan berarti terbuka pada semua hal. Setiap orang berhak memiliki privasi. Nah, di sinilah satu sama lain harus memiliki rasa menghargai kepada pasangannya. Tak boleh memaksanya untuk buka suara kalau memang sedang tak ingin. Harus menghargai apa yang menjadi pilihan atau ideologinya meskipun berbeda. Bukankah tujuan menikah ialah menyatukan perbedaan agar keduanya bisa saling belajar menghargai?

3. Bosan, suka dan duka dalam menjalin hubungan adalah hal biasa.

via: WomansDay.com
via: WomansDay.com

Kadang suka pengin ketawa kalau lihat anak-anak muda yang berpisah hanya gara-gara bosan dalam menjalin hubungan. Padahal, kalau sudah menikah, yang begitu-begitu mah sudah biasa. Siklus akan berputar. Kadang senang, kadang bahagia, kadang sedih, kadang romantis, kadang bosan, dan banyak lagi rasa-rasa yang akan hadir dalam menjalin rumah tangga.

4. Romantisme bukan lagi hal yang paling utama.

via: Zoosk.com
via: Zoosk.com

Dulu, jaman sebelum resmi (menikah), adalah wajib hukumnya mempersembahkan bumbu-bumbu romantisme dalam hubungan. Kayak-kayaknya romantis itu harus dan wajib. Tak boleh ada ketidaksempurnaan dalam hubungan, semacam kebosanan begitu, lah. Dikata gampang apa bikin suasana jadi romantis terus-terusan?

Setelah menikah, banyak hal yang jauh lebih penting daripada sekadar romantisme. Apakah itu berarti romantis itu tidak penting? Oh, bukan begitu. Romantis itu penting, namun bukan lagi yang utama. Karena memang ada hal-hal yang harus didahulukan, seperti tanggung jawab, pengertian satu sama lain, dan banyak lagi.

5. Stabilitas keuangan dalam keluarga perlu dibicarakan secara serius.

via: AskMen
via: AskMen.com

Nah, Kawan Muda, poin ini masih ada sedikit kaitannya dengan poin nomor 4 di atas.

Ya, setelah menikah, bahasan-bahasan soal keuangan ini penting banget. Jauh lebih penting ketimbang bumbu-bumbu romantisme yang dijunjung tinggi oleh budak-budak cinta itu. Setelah menikah, bahasan paling penting di antaranya: adakah uang untuk membeli beras? Adakah uang untuk membeli sabun? Bagaiman uang untuk membayar listrik? Dan banyak lagi lainnya.

6. Lagi capek habis kerja seharian, tapi kok pasangan minta jatah. Duh, jadi pengin melayani.

via: CollegeTimes.com
via: CollegeTimes.com

Kalau sudah menikah, bersenggama itu justru dinilai sebagai ibadah. Salah satu hal enak yang berpahala. Makanya, kalau sudah menikah, sering-seringlah melakukan ibadah yang kayak gini.

Tapi ya meskipun enak, tetap saja manusia memiliki rasa capek dan sedang tak memiliki mood untuk melayani. Namun sebagai pasangan yang pengertian, tak semestinya engkau membiarkannya menggelinjang sendirian. Nafsunya yang tengah menggebu-gebu itu butuh penyaluran. Kamu tentu tak mau dong, kalau ia sampai menyalurkannya ke tempat yang tak tepat? Jadi, layanilah ia. Toh, itu ibadah, bukan?

7. Frekuensi bertengkar bisa jadi akan lebih sering. Mulai dari hal remeh-temeh sampai hal besar.

via: HuffingtonPost.com
via: HuffingtonPost.com

Saat belum menikah, ribut dalam hubungan itu urusannya hanya pada hal-hal yang kelihatan saja. Seperti dandannya kurang rapi, salah pasangan foto profil di sosmed, komen statusnya lawan jenis, dan banyak hal lainnya.

Setelah menikah, kamu hampir 24 jam bersamanya, yang tentu baik dan buruk akan dirinya akan kamu ketahui. Begitu pula baik dan burukmu. Semua tampak terang-benderang di matanya. Kalau masing-masing dari kalian tak siap melihat itu sebagai kenyataan yang semestinya dimaklumi, pasti pertengkarang gampang sekali tersulut. Jadi, maklumi saja. Bukankah setiap orang itu hadir dalam satu paket komplit: kekurangan dan kelebihan? Lantas mengapa harus merisaukannya?

8. Sekali-kali berpisah untuk ‘me time’ itu juga penting, agar kemudian timbul rasa kangen.

via: YouQueen.com
via: YouQueen.com

Sebentar, kata ‘berpisah’ di sini bukan berarti cerai loh ya. Tapi berpisah dalam artian untuk me time. Bisa dilakukan dengan mendaki bersama teman-teman, liburan bareng sahabat, dan banyak lagi. Tapi jangan lupa, ijin ke pasangan dulu ya. Jangan asal ngeloyor pergi. Ijin itu tanda bahwa kamu menghargai pendapatnya.

Menyepi, atau menjauh sejenak darinya bisa membuat rasa kangen timbul dari dalam dirimu. Sehingga, pulang dari menyepi, satu-satunya hal yang paling ingin kamu lakukan ialah bercengkrama terus dengannya. Mempraktikkan poin nomor 4 pada postingan ini.

9. Dan hal-hal lain yang tak bisa diprediksi, namun harus dihadapi.

via: Lifehack.org
via: Lifehack.org

Akan ada banyak hal tak terduga yang muncul setelah pernikahan. Perhitungan-perhitungan rasional sebelum menikah itu, pada akhirnya setelah menikah bisa saja berubah menjadi:

“Ya sudah, lah, jalani saja,”

Akhirnya banyak tindakan-tindakan spontan untuk mengatasi masalah. Yang tadinya tak menyangka masalah bisa diatas, eh ternyata bisa selesai juga dengan baik. Jadi, merencanakan itu baik. Namun jangan lupa untuk bersikap fleksibel kalau ada hal-hal yang terjadi di luar dari apa-apa yang direncanakan.