Kepadamu wanita yang (terpaksa) aku sebut orang ketiga

Image Credit : www.shayaricollection.com

Aku menulis ini ketika emosiku sudah mereda. Aku menulis ini ketika luka hatiku sudah mulai mengering. Aku menulis ini ketika aku tak lagi dipenuhi perban diseluruh tubuhku karena rajaman pisau darimu. Aku menulis ini saat hatiku sudah mulai berdamai dengan keadaan sekarangku. Aku menulis ini saat aku sudah bisa menceritakan tentang perlakuanmu padaku tanpa rasa nyeri di dada. Aku menulis ini saat aku sudah bisa tersenyum ketika mengingat semuanya.

Tanpa perlu aku menjelaskan, pasti kau sudah tahu siapa aku. Tanpa perlu aku berkoar-koar tentang apa yang sudah kau lakukan, aku rasa kau tentu masih mengingatnya dengan jelas. Tanpa perlu aku mengajarimu, sebenarnya kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Hanya saja, kau tak pernah merasa telah mengambil yang bukan milik, jadi tak ada sedikitpun rasa bersalah dihatimu.

Aku tahu, tak pernah ada satu wanitapun di dunia ini yang mau disebut orang ketiga. Apalagi ketika harus membiarkan dirimu sendiri menjadi bahan perbincangan atau cemoohan orang lain. Aku rasa, tak ada satu orang pun yang sudi dirinya diberi label orang ketiga. Tapi harus ku sebut apalagi wanita yang hadir di antara aku dan pasanganku kala itu yang sekarang menjadi pasanganmu selain orang ketiga?

Aku rasa, kau masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana kedatanganmu di hidupku dan hidupnya. Aku rasa, kau masih bisa mengingat apa saja yang aku katakan padamu di awal kedekatanmu dengan laki-laki yang kala itu sangat berharga untuk hidupku. Aku rasa, kau juga masih menyadari, bahwa tak ada adegan menjambak rambutmu atau menyirammu dengan air keras yang aku lakukan padamu ketika aku tahu apa yang kalian lakukan di belakangku.

Aku tahu, bahagia sedang menjadi teman baikmu. Kehidupan yang sempurna bersama orang yang sedang setengah mati mencintaimu. Senyum merekah menjadi pemanis hari-harimu. Pelukannya menjadi selimut terbaikmu. Pundaknya menjadi tempat ternyamanmu merebahkan lelahmu. Suaranya menjadi nyanyian terindah di telingamu. Dan bau tubuhnya adalah aromabterapi yang paling bisa menenangkanmu.

Sebelum kau merasakan semua itu, akulah yang merasakannya terlebih dahulu. Sebelum kau merebut semua itu dariku, akulah satu-satunya bagi hidupnya. Aku yang selalu dia usahakan untuk dibuat bahagia. Aku yang selalu dia usahakan untuk mendapat segala yang terbaik. Aku yang selalu dia jaga seperti gelas yang sangat rentan pecah. Aku yang selalu dia banggakan dalam setiap kesempatan.

Aku tak menyalahkan kedatanganmu dalam kehidupan yang sedang aku jalani dengannya. Aku tak menyalahkan kehadiranmu yang mengusik keyakinannya pada apa yang sedang aku usahakan dengannya. Aku tak menyalahkan kemunculan mendadakmu disaat undangan hari sakralku sudah ada di tangan handai taulan. Aku tak menyalahkanmu setelah dia benar-benar memutuskan berpaling padamu tepat di beberapa belas hari sebelum ikrar suci itu seharusnya dia ucapkan di sampingku.

Sekarang, setelah beberapa purnama aku lewati, dengan jujur harus aku akui bahwa tak mudah memaafkan semua yang sudah kau lakukan dengan sengaja padaku. Bahkan sejak awal kehadiranmu dalam hidupnya kala itu, kau sudah mengetahui ada aku di sampingnya. Kau juga sudah cukup dewasa untuk seharusnya berpikir bahwa lelaki yang kau inginkan itu sudah menuju beberapa belas hari pernikahannya denganku. Dan kau juga pasti bisa menyadari bahwa akan banyak hati yang tersakiti dan ada banyak muka yang dipermalukan karena tindakanmu yang diluar nurani seorang wanita itu.

Terima kasih telah membuatnya berpaling padamu disaat yang tepat. Terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa dia bukanlah sosok yang baik untukku. Terima kasih telah membebaskanku dari belenggu masa depan yang bisa saja menghancurkan hidupku jika aku tetap menjalani dengannya. Terima kasih telah bersedia menggantikanku menjaganya karena sampai kapanpun juga, aku tak akan pernah sanggup menjaga seorang pengkhianat apalagi harus menghabiskan sisa hidupku dengannya.

Karenamu, aku menjadi lebih mengetahui bagaimana menjaga dan memahami perasaan orang lain. Karenamu, aku menjadi tahu bagaimana harus memperlakukan orang lain. Karenamu, aku menjadi semakin belajar menjadi wanita yang tak hanya mengedepankan egonya hati tapi juga harus bisa menggunakan logikanya. Karenamu, aku bersyukur mengalami kesakitan ini sekarang dibandingkan aku harus dihantui perasaan takut seumur hidupku jika hidup dengan lelaki yang bahkan tak bisa setia dengan komitmennya dan tak memiliki tanggungjawab sepertinya.

Bahagia seperti apapun yang sedang kau nikmati sekarang, jangan pernah kau lupa, bahwa itu semua kau dapatkan setelah mencurinya dariku. Serenyah apapun tawa yang kau miliki tak akan pernah bisa kau pungkiri bahwa itu diawali dari tetes air mataku. Sebangga apapun keluargamu pada sosok lelakimu itu juga tak akan merubah keadaan bahwa ada keluargaku yang pernah dipermalukan karena tingkah pengecutnya.

Kamu akan tetap menjadi kamu. Dengan sebutanku yang tak akan pernah bisa berubah. Hingga selamanya, tak ada yang bisa merubah kenyataan bahwa kau mengawali bahagiamu dengan cara menginjakku. Kau bersedia menerima pinangannya dan menjadi kekasih halalnya setelah merebutnya beberapa belas hari dari waktu seharusnya dia mengikrarkan janji sucinya disampingku. Tak ada yang bisa merubah cerita hidupmu bahwa kau membangun pondasi rumah tanggamu dengan air mata dan sakit hatiku sekaligus keluarga besarku.

Selamanya, kau tak akan pernah bisa mengingkari bahwa hidup yang sedang kau jalani bersamanya dengan mengatasnamakan cinta sucimu itu didapat dari cara yang sangat tidak suci.

 

 

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!