Untuk seseorang di bawah langit yang mengandung hujan

Kau dan aku hanya akan menjalani hidup bersama.

sendiri
Image Credit : Onehdwallpaper.com

Sejak dulu, aku ingin menuliskan ini. Entah kepada siapa. Entah untuk apa. Dalam malam yang selalu dingin, dan hujan yang tiada hentinya turun di pipi. Kutuliskan ini, dengan segenap perasaan yang menghujam pikiranku. Sesuatu yang terlihat penting, tetapi sebetulnya kadang aku tak begitu peduli. Hatiku negeri hujan. Musim-musim telah berganti, tetapi hujan tak pernah pergi.

Aku telah melalui banyak hal. Menemani, dan ditemani, menghibur, dan dihibur, jatuh, dan menjatuhkan orang lain, mencari, juga dicari, melihat, dan dilihat, serta mencintai tanpa dibalas, juga dicintai orang yang sama sekali tak kucinta. Lalu setiap pagi, kudengar langit bercerita kepada burung-burung yang berdiri di ranting pohon, bahwa langit mengandung hujan, bahwa semua yang terjadi akan berputar, dan yang pergi akan kembali, walau berbentuk orang lain.

Di akhir pekan waktu berjalan cepat. Secepat kepergian seseorang yang pernah membagi senyumnya. Semuanya berubah. Tetapi hidup seperti pertunjukan drama yang ditepuki setelah usai. Dan semua yang berakhir mestinya kita rayakan. Untuk itu, kutuliskan ini. Sebab bertahun-tahun kuhanya mampu meratapi sepi.

Dan kini, kuingin pergi, ke manapun, ke tempat-tempat yang mungkin akan mempertemukanku dengan seseorang di bawah langit yang mengandung hujan itu. Besok aku pergi ke taman, siapa tahu kita berjodoh di sebelah bunga-bunga yang hampir layu karena matahari tak memberi jeda pada langit tuk turunkan hujan. Sore hari, kuakan berdiam diri, melihat lalu-lalang para pekerja dari balik bulu mataku yang lebat.

Bagaimana jika setiap malam kuberdiri di depan rumah, siapa tahu kutemukan jodohku di sana. Bagaimana jika seseorang yang sering mampir dalam mimpi adalah jodoh yang dikirim Tuhan selama ini. Bagaimana mestinya hidup ini berjalan? Aku sering terjebak dalam pikiran-pikiranku sendiri, dan aku tak ingin mendapatkan seseorang yang sama persis denganku. Tapi bagaimana jika begitu?

Kepada orang asing yang mungkin membaca ini. Kau tidak mengenalku, dan aku pun begitu. Tetapi siapa yang peduli dengan alasan-alasan, bila Tuhan telah meniupkan zat berupa cinta, itu mampu membuat kita hening, kemudian takut ditinggal pergi. Demi langit yang mengandung hujan, demi Tuhan, dan demi kau, yang entah siapa, cinta akan segera menipu kita, bisa sesaat, bisa selamanya, mungkin lewat mata, mungkin lewat kata.

Kutuliskan ini sambil senyum-senyum di atas kursi kayu, dengan kaki yang terangkat satu. Lalu kuberpikir, jodohku kan lebih senang bila kududuk dengan gaya apa. Kemudian mataku lelah, dan kuingin terpejam barang sebentar, siapa tahu Tuhan memberi petunjuk bagaimana rupamu, atau setidaknya namamu, biar kucari di instagram, atau facebook. Tapi, bagaimana jika Tuhan menjodohkanku dengan seseorang yang usianya lima belas tahun lebih tua? Atau jangan-jangan, jodohku adalah dia yang pernah menyakitiku hingga sesak di dada kualami bertahun-tahun. Aku tak sanggup. Bahkan hanya untuk membayangkannya.

Di luar sana, orang-orang sibuk menggunakan aplikasi perjodohan, mengikuti komunitas, dan segalanya tentang cara untuk mempermudah jodoh datang. Dan aku tidak tertarik. Adakah sesuatu yang menarik untuk orang sendu sepertiku? Aku bahkan berpikir untuk menjual kesedihan-kesedihanku, maka itu kutuliskan ini. Siapa tahu, engkau yang entah siapa, ingin berkenalan kemudian membeli segala kesedihan yang kupunya. Berupa mas kawin, dan ijab kabul di hadapan wali nikah. Kita hidup berdua, berbagi bahagia, dan seketika aku lupa bahwa sebelumnya aku pernah menangis meminta mati karena tak sanggup patah hati.

Setiap senja aku akan membuatkanmu teh hangat, dan kopi di pagi harinya. Atau bila kau mau mengubahnya tak apa, terserah. Aku hanya merasa bahwa senja lebih tenang bila dinikmati dengan teh hangat. Malam hari kita tak usah makan, sebab aku tak ingin menjadi gendut, dan aku tak ingin kau tak terurus. Tapi bila kau lapar, kita bisa membuat jus buah tanpa gula, karena manisnya datang dari bibir kita masing-masing.

Sebelum tidur kita akan cuci muka, dan sikat gigi di kamar mandi, bersama-sama menatap cermin. Aku melihatmu, dan kau melihatku. Tanpa suara, tanpa topik apa-apa. Setelah itu kau dan aku pergi ke kasur. Salah satu dari kita tertawa, karena selama hidup belum pernah sikat gigi sebelum tidur. Dan kita bahagia, karena telah menciptakan rutinitas yang membosankan hingga tua. Tapi itu jauh lebih baik, setidaknya kita punya alasan untuk bersama di dalam cermin yang sama. Siapa tahu wajah kita menjadi mirip, dan orang-orang akan menyebut kita sebagai pasangan terjodoh di muka bumi. Lalu kita akan menjawab, bahwa semua itu karena kita saling bertukar empati.

Jodohku, siapa lah dirimu itu, aku berharap kau bukan orang yang menghabiskan masa muda dengan menjadi tua. Menelan segala perkara yang mestinya bisa selesai dengan tertawa. Aku ingin kita sama-sama memeluk, dan jangan sekali-kali kau peluk aku dari belakang. Aku ingin kita saling menggenggam, dan jangan kau menggenggam tanganku tanpa kita saling menatap. Jodohku, kasihku, kesayanganku yang entah siapa. Tulisan ini hanyalah omong kosong, sebab kehidupan kadang sialan.

Kau dan aku hanya akan menjalani hidup bersama. Bangun tidur, bekerja, pulang ke rumah dengan wajah yang layu, lalu saling melayani dengan gebu yang tinggi, kadang juga redup. Setiap hari begitu. Hingga bosan. Hingga muak. Tetapi tak mampu untuk saling meninggalkan.

 

Image credit : Onehdwallpaper.com