Untuk kamu yang tak menganggapku ada namun mencariku kala kau kesepian

sendiri
Image Credit : allcoverpix.com

Sakit memang menaruh perhatian pada seseorang yang tak peduli terhada kita. Namun apalah daya ketika dorongan untuk memberi perhatian dan kasih sayang lebih besar dibandingkan resiko rasa sakit sikap tak acuh mu. Bukan aku tak tau resiko sakit yang akan kuderita dari sikap peduli ku terhadap mu. Namun akupun takut sakit ketika membayangkan akan benar-benar kehilangan mu.

Setitik saja kabar dan respon mu atas perhatian ku cukup membawaku percikan bahagia dalam hati ku. Walaupun tentu saja aku berharap kau bisa lebih perhatian hingga mempercayakan hati mu kepada ku. Bagi ku setetes harapan seperti pesan singkat mu sudah cukup bagiku untuk terus berjuang, berusaha menunjukkan bahwa aku sangat peduli terhadap mu.

Maka kuberanikan tekad untuk mencoba peduli tanpa pamrih terhadap mu. Walaupun sikap dingin yang sering kuterima. Bukan aku tidak tahu bahwa kamu akan bersikap dingin terhadap ku. Tapi aku hanya tidak peduli dan terus berusaha terhadap mu.

Taukah kamu bahwa aku benar-benar peduli. Bahwa aku pun sering berfikir ribuan kali sebelum akhirnya mencoba menyapa mu dengan kehangatan. Ragu-ragu pun sering menghampiri ku ketika akan kembali memperjuangkan mu. Pikiran ku pun sering berontak agar tak lagi peduli terhadap mu. Namun aku selalu kembali pada mu, entah bagaimana sakitnya perlakuan mu terhadap ku.

Bahagia rasanya ketika kau mulai merespon dan membutuhkan keberadaan mu. Walaupun ku tau, kala itu kau tengah kesepian maka aku lah pelarian mu. Tetap saja aku bahagia tak mempedulikan alasannya. Bagi ku sudah cukup ketika aku bisa berada disismu walaupun sementara.

Seringkali aku bingung memikirkan apa kekurangan yang harus kuperbaiki hingga kau mengacuhkan aku begitu saja. Apakah aku terlalu naif menerima saja perlakuan mu tanpa protes. Ataukah aku kau memang terlalu mempesona diri ku.

Sakit rasanya ketika melihat kamu bergandengan dan bahagia dengan yang lainnya hingga mengunggah foto-foto mesra di social media. Namun ketika terpuruk dan kesepian kau pun mencariku bagai pelarian pembuangan sampah. Namun tetap saja aku bisa sedikit senang karena keberadaan mu lagi.

Lelah sering menghampiri dan menarikku dalam kegelisahan mendalam karena kau telah kembali pada kehidupan mu yang lain, dimana tidak ada aku disana. Aku hanya mampu melihat dan menunggu. Sesekali mencoba memberikan perhatian yang disambut dingin oleh mu.

Sudah sering ku coba melangkah jauh dari kamu dan mencoba kehidupan lainnya. Namun seringkali kamu sendiri pula lah yang menghalangi ku. Berusaha mempertahanku kembali, namun lagi-lagi kau hempaskan begitu saja perasaan ini. Kau tak mau terus bersama ku, namun kau juga tak mau kehilangan pemain cadangan seperti ku.

Entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini, bukan sekali aku meragu namun dorongan kasih ku ternyata lebih besar dari rasa kecewa ku. Namun bertahan seperti demikian itu sulit, maka ketika aku lelah bertahan biarkan aku berlalu dari kehidupan mu. Aku kan mulai merambati kehidupan lainnya yang bisa membawaku lebih hidup lagi. Maka kucoba larikkan kata menjadi puisi, aku bagai gemuruh angin bagimu.

Bagimu aku hanya sepoi angin lalu, terlewati begitu saja, tanpa perlu kau indahkan. Karena aku hanya akan berlalu begitu saja.

Bagimu aku hanya gemuruh angin diluar rumah yang menganggu. Maka kau tutup semua pintu dan jendela.

Padahal aku adalah angin yang menyejukkan mu ketika kau dalam kehampaan. Kau kan mencari sejukku ketika kau tengah gerah dan jengah dengan hidup mu.

Aku pun bergemuruh karena berusaha membuat mu mendengar ku. Karena kau tak acuhkan aku. Namun, semakin ku bergemuruh berusaha mendobrak mu. Semakin kuat dan bencilah pula kau terhadap ku.

Pada akhirnya aku hanyalah gemuruh angin bagimu. Hal yang terkadang kau butuhkan. Namun, tak akan pernah kau lihat.