Surat untuk kamu yang pernah membuat hatiku layu saat ia akan bertumbuh

menulis
Image Credit : jljconsultancy.com

Kepada kamu yang pernah membuat hatiku layu, padahal ia sedang akan bertumbuh…

Ini bukan tentang sebuah cinta kilat. Ada banyak hal yang memang dipertimbangkan ketika aku mengungkap perasaan ini. Kita telah cukup lama saling mengenal. Sama-sama berproses untuk bisa memahami satu sama lain. Hubungan yang diawali dengan sebuah perkenalan tak sengaja, hingga kita sepakat untuk menjadi teman baik.

Sejak awal aku memang membiarkanmu dengan leluasa masuk ke hidupku. Hingga perlahan aku mulai merasa kurang bila kamu tak ada di sisiku. Kau curang! Diam-diam membuatku nyaman dan tak bisa jauh darimu. Ada binar lembut yang sesekali kutangkap dari matamu. Sinar yang begitu hangat, dan aku hanya sanggup terpana. Terhanyut dalam hangat tatapmu. Bukankah mata adalah pancaran jiwa yang sebenarnya?

via: www.lifehack.org
via: www.lifehack.org

Sesekali aku memang merajuk, meminta tolong padamu. Hebatnya, kau selalu ada untukku. Hingga melewatkan jadwal bermain futsalmu hanya untuk menemaniku. Sesekali bahkan kau tak segan untuk pulang kerja lebih awal demi mengiyakan permintaanku. Wanita mana yang tak tersanjung diperlakukan bak seorang putri?

Orang bilang, tak ada hubungan persahabatan yang benar-benar murni antara seorang wanita dan laki-laki. Dulu aku mati-matian menyangkal hal itu. Namun, pada suatu hari semuanya menjadi begitu berubah. Aku mulai menyadari ada seseuatu yang berubah dari caramu menatapku.

Sebenarnya tak hanya tentang kamu. Aku juga merasakan desir di dada ketika berada di dekatmu. Bahkan mulai timbul rasa curiga ketika aku melihatmu sedang asyik dengan handphone-mu. Sungguh, rasa ingin memiliki itu mulai timbul begitu saja. Mungkin, ini memang cinta.

via: www.huffingtonpost.com
via: www.huffingtonpost.com

Kau tahu, bukan hal mudah ketika aku harus jujur dengan perasaan ini. Mengakui cinta yang entah mulai tumbuh sejak kapan. Aku pun tak tahu, yang kupahami rasa yang seharusnya indah itu telah mengakar begitu kuat di hati. Andai kusadari, kapan cinta itu mulai tumbuh, tentu aku tak akan membiarkan dia tumbuh seenaknya.

Terlanjur. Itu kata kata yang paling tepat untuk keadaan itu. Aku terjebak dalam dilema tak berkesudahan. Dengan sadarku, aku merelakan malam-malamku tanpa tidur nyenyak. Membiarkan wajahmu menghantui pikiranku. Aku terperangkap dalam cinta yang tak kutahu pasti, kapan mulai muncul.

Sulit rasanya menyakinkan diriku sendiri untuk mengungkapkan rasa itu. Meyakinkan bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja setelah itu. Hingga pada suatu senja yang temaram, aku memiliki keberanian itu. Dengan suara bergetar, aku mengungkap cinta itu. Setengah mati menahan degup jantung yang kian memburu. Terbata-bata aku mengakui hal itu. Tentang cinta yang kini terasa menyiksa.

Kau tercenung. Ekspresi wajahmu terlalu datar untuk diartikan. Aku terdiam sabar menunggu jawabanmu. Menghitung detik demi detik yang kali ini terasa begitu lambat. Pelan kau mengulurkan padaku selembar foto. Aku menerimanya dengan tangan sedikit bergetar. Udara pekat mengantarkan firasat buruk.

“Dia tunanganku,” katamu pelan. Aku terperangah. Mati-matian menahan rasa ngilu di hati. Semuanya terasa begitu mendadak. Tak pernah sekalipun kau bercerita tentang dia. Atau mungkin aku yang tak tahu diri, hingga tak pernah punya inisiatif untuk bertanya mengenai sosok wanita yang mengisi hatimu?

via: en.wikipedia.org
via: en.wikipedia.org

Semuanya telah terlanjur. Cinta itu telah tumbuh. Kau telah mencerabutnya dengan paksa. Sampai kapan pun, bekas lubangnya tak akan hilang. Selalu ada tempat untukmu di hatiku. Sekalipun mungkin daun-daun cinta itu telah layu tak berdaya.

Terima kasih telah bersikap sangat manis padaku. Terima kasih pernah memperlakukanku seperti seorang putri. Kau tak perlu lagi memberikan jawaban gamblang lagi, semuanya sudah jelas. Maaf, aku pernah lancang mencintaimu. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dengan hati yang jauh lebih baik.