Untuk kamu yang melangkah bersama orang lain, doa terbaik (tetap) kupanjatkan untukmu

sendiri
Image Credit : pixabay.com

Saat pertemuan pertama aku bertanya, ‘adakah engkau orang yang dikirimkan Tuhan untuk menjagaku dan kujaga?‘ Kudaraskan doa penuh pertanyaan karena kita berbeda. Apa rencana-Nya hingga mempertemukan kita. Kenapa kamu? Dan kenapa aku? Kenapa kita?

Saat hubungan itu berjalan, daras doa itu berganti permohonan. Memohon bahwa kau akan jadi yang terakhir. Memohon bahwa kamu memang untukku. Dan kamu bertahan hingga membuatku bertahan. Itu cara kita memperjuangkan hati dan yang kita sebut cinta. Dalam setiap badai. Dalam setiap masa-masa sulit. Aku berusaha ada untukmu. Saat kamu ragu pada dirimu sendiri, aku bertahan di sana dan menjaga keyakinanku atasmu. Dan setiap kali aku goyah, kau ingatkan aku bahwa di sana ada kamu untukku.

Dalam perbedaan kita, doa yang terbisik selalu menyebut namamu di antara nama-nama orang tercinta. Tak pernah luput dari daras rosariku diantara orang-orang terbaik dalam hidupku. Mengatakan pada-Nya bahwa aku hanya menginginkanmu, entah bagaimana pun caranya. Segala rencana tersusun indah. Bahwa selangkah lagi yang ada hanya kita.

Tapi seindah apapun rencana kita, sekeras apapun aku berusaha, sekuat apapun aku bertahan, setekun apapun aku berdoa, aku tetap tidak bisa memaksa Dia memenuhi mauku. Ketika Dia bilang tidak lewat keputusanmu dan caramu berpaling, aku menyerah. Mungkin Dia ingin menegurku atas kesombonganku mengatur-Nya. Mungkin ini cara Dia mengatakan padaku bahwa ini hak prerogatif-Nya.  Mungkin ini cara terakhir-Nya untuk mengatakan padaku bahwa bukan kamu orangnya. Mungkin ini cara dia untuk menguji seberapa kuat prinsip dan keyakinanku untuk-Nya.

Dan sekali lagi aku mendaraskan doa.

Doa agar Dia tetap menjagamu. Doa agar Dia tetap memberkati setiap keputusanmu. Doa agar Dia menjaga hatiku. Doa agar Dia segera mengirimkan obat untuk lukaku. Doa untuk meyakinkanku bahwa ini yang terbaik.

Mungkin benar doa orang yang tersakiti itu didengar. Doa-doa itu terkabul satu demi satu. Dia mengirimkan para malaikat terbaik untuk menjagaku, membantuku berdiri, menghapus air mataku setetes demi setetes, menjagaku agar tak melakukan banyak hal bodoh di otakku karenamu. Meski mereka tanpa sayap, aku tahu mereka berusaha membuatku terbang kembali.

Dan kurasa Dia juga menjagamu dengan secepat kilat dan petir mengirim penggantiku. Dan kupasrahkan kamu padanya. Kutitipkan hati yang pernah kujaga padanya. Doa terpanjat dalam air mata untuk kalian berdua. Berdoa agar tak ada lagi luka seperti ku dalam hidupmu. Tidak dengan dia atau bahkan  kelak dengan anak perempuanmu. Sungguh, jika karma itu memang ada aku berdoa agar lingkaran itu berhenti. Agar luka yang kurasakan berhenti di sini, padaku.

Saat kudengar hari bahagiamu, yang bisa kulakukan sekali lagi hanyalah berdoa. Doa terbaik yang bisa kupanjatkan saat ini bagi kalian. Doa yang kupanjatkan meski badai di hatiku hanya mereda dan entah kapan akan berhenti. Semoga tak ada badai yang cukup kuat untuk memisahkan kalian. Semoga setiap badai yang pasti akan datang menguatkan kalian. Semoga tak ada luka yang tak bisa sembuh di hati kalian. Semoga setiap luka akan sembuh segera dan tak meninggalkan bekas apapun. Semoga bagi kalian hanya ada berkat dan bahagia. Sampai kapanpun, aku hanya bisa berdoa hal-hal terbaik untukmu. Karena hati ini tak sanggup lagi terluka jika kau tak bahagia. Itu saja.