Antara Tuhan, Aku dan Kamu

gadis-berdoa
Image Credit : faith-outreach.org

Entah apa yang membuat kamu dan aku semakin hari semakin mencintai sedangkan jurang pemisah antara kita terlihat jelas didepan mata.

Tuhan itu satu. Hanya cara mengimaninya saja yang berbeda-beda.

Jika aku berdoa dengan cara berlutut didepan altar-Nya, kaupun bersujud menghadap ke ka’bah-Nya.

Aku yang setiap hari Minggu mendengarkan kotbah Pastur didalam gedung Gereja, sedangkan kamu yang setiap Jum’at mendengarkan kotbah dari seorang Ustad didalam sebuah Masjid.

Tuhan mempertemukan kita pasti memiliki alasan dan rencana untuk kehidupan kita, entah kita hadir sebagai berkat atau hanya sebagai kenangan.

Apakah aku salah jika menyakinkan kamu bahwa hubungan ini akan tetap baik-baik saja meski cara mengimani Sang Pencipta yang berbeda?

Semakin jatuh cinta padamu setiap harinya, seakan semakin mengali jurang pemisah itu semakin dalam.

Tapi bukankah Tuhan tak pernah memberi kita kesempatan memilih jatuh cinta pada siapa?

Tanpa mengingkari keyakinan, tanpa mengkhianati perasaan, mungkinkah berdua kita bisa mendamaikan keadaan?

Menyadari perbedaan kita itu seperti mencerap neraka. Seandainya berhak meminta, aku ingin sejenak bicara dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia.

Oh Tuhan,…

Entah harus meminta dengan cara yang seperti apa lagi?

Entah harus merayuMu dengan rayuan apa lagi?

Aku adalah wanita yang begitu mencintainya, dihadapanMu aku berlutut hanya memohonkan restuMu.

Jika memang pertemuan aku dan dia adalah untuk Kau satukan, biarlah jalanMu yang Kau tunjukan.’

Jika Kau tidak berkenan mempersatukan kami, maka rencanakanlah sesuatu yang indah agar dapat kami kenang selamanya.

Aku percaya rencana indah telah Kau siapkan untuk masa depan kami berdua. Amin…

Untukmu Si Pria rambut klimis yang rajin ke Masjid 🙂