Tak perlu galau bila temanmu susah diajak bertemu, selama hal-hal ini ada dalam pikiranmu

sendirian
Image Credit : www.wnyc.org

Persahabatan seseorang memang kadang tak bisa sekuat para aktris dalam film AADC. Waktu terus berlalu dan masing-masing dari kita semakin bertumbuh, lalu bergaul dengan lingkungan yang di dalamnya berisi orang-orang baru. Frekuensi pertemuan tentu tak lagi sama, interaksi pertemanan pun demikian. Teman memang bisa sama, tetapi ia telah menjadi orang yang berbeda. Begitu pula kamu.

BACA JUGA : Kalau kamu sudah dewasa, harusnya 6 tanda ini ada pada dirimu

Adalah hal manusiawi bagi seseorang: meninggalkan pertemanan tertentu, lalu masuk ke pertemanan baru. Pada setiap kolam pertemanan, hanya ada beberapa saja yang bisa bertahan untuk terus merekatkan hubungan pertemanan. Tapi tak mengapa, itulah seleksi alam. Pada akhirnya nanti, semua dari kita akan demikian. Seperti tak semua ilmu yang bisa kita telan baik-baik hingga mengendap lama, begitulah pertemanan: tak semuanya bisa mengendap lama hingga menjadi sahabat sejati.

Kendati demikian, Kawan Muda tak perlulah risau. Setidaknya, hal-hal berikut ini masih bisa dilakukan:

1. Memaklumi, bahwa masing-masing telah memilikir kehidupan sendiri. Termasuk kamu. Hindarilah ketergantungan, dan mulailah kembali mencari teman.

via: www.santabanta.com
via: www.santabanta.com

Bukan hak kamu untuk marah dan menghardik teman-teman yang sudah mulai tak membaur denganmu. Usia dan berbagai keharusan akan suatu hal membuat semua orang yang berpindah fokus. Berpihak pada sesuatu yang penting dan sesuai dengan kondisi hidupnya.

Misalkan, seseorang sedang mengalami perekonomian yang terpuruk. Tentu, langkah yang paling tepat baginya ialah pergi ke tempat di mana uang lebih banyak beredar, dan memberi kemungkinan kemakmuran keuangan padanya. Termasuk, apabila risikonya harus meninggalkan sahabat yang berada di tempat tinggal aslinya.

Apakah ini disebut dengan tidak setia kawan? Tidak! Masing-masing dari kita sudah punya keharusan lain. Toh, pertemanan masih bisa dijalin melalui aplikasi messanger atau sosial media.

2. Saatnya bagimu untuk memperluas kolam pertemanan. Siapa tahu, jodoh bisa datang dari lingkungan baru yang kamu pilih.

via: www.ibtimes.co.uk
via: www.ibtimes.co.uk

Menghadapi teman yang pergi dengan bersedih hati adalah pilihan dungu! Karena hanya akan membuang-buang waktu. Padahal, waktu yang dipakai untuk meratap, bisa digunakan untuk melakukan hal lain seperti masuk ke lingkungan-lingkungan pertemanan baru.

Kita tak pernah tahu konsekuensi apa yang bakal diperoleh dari hidup yang dipilih. Kita hanya bisa memilih, tetapi tak bisa mengendalikan hasil dari pilihan. Jadi, cobalah bergabung dengan orang-orang baru, siapa tahu kamu akan mendapat sesuatu. Bisa relasi bisnis, atau jodoh, mungkin?

3. Ingat, kamu juga punya masa depan. Jangan lama-lama terlarut dalam kesedihan.

via: www.huffingtonpost.com
via: www.huffingtonpost.com

Kalau mau dilihat dari sisi positif, sebetulnya, teman-teman yang pergi dari hidupmu itu, memberikan pelajaran menarik bagimu. Dengan ini, kamu bisa melatih kemampuan dalam berinteraksi dengan orang-orang baru. Yang seperti Kita Muda sebutkan pada poin 2 tadi: kamu bisa dapat sesuatu dari pergaulan baru.

Alih-alih menenggelamkan diri dalam kesedihan, mengapa tak memilih untuk mempersiapkan masa depanmu, dan mengejar mimpi-mimpimu? Bukankah itu akan menjadi investasi waktu yang produktif?

4. Kekasih tiada, teman-teman pun pergi. Inilah saatnya menjadi mandiri tanpa adanya intervensi.

via: www.huffingtonpost.co.uk
via: www.huffingtonpost.co.uk

Saat memiliki pasangan, dan dihadapkan pada keadaan di mana kamu harus memilih sesuatu, maka pengambilan keputusan tak bisa kamu lakukan sendiri. Kamu harus melibatkan pasangan. Bayangkan, apa yang terjadi apabila kamu menentukan sesuatu tanpa melibatkan pasangan. Niscaya ia akan berkata:

“Jadi, kamu tak menganggap kalau aku ada? Oke, baiklah!”

Sementara jika berbaur dengan teman, sebetulnya kamu tetap bisa mandiri. Hanya saja, tentu ada perasaan tak enak bila memutuskan sesuatu tanpa adanya rembug pikir dengan mereka-mereka yang kerap bergaul denganmu dalam kehidupan.

Jadi, bukankah momen tak punya pasangan dan kehilangan teman seperti sekarang ini bisa dimanfaatkan agar kamu bisa hidup lebih mandiri?

5. Hari ini, teman-temanmu memilih mengejar mimpinya. Begitu pula kamu. Percayalah bahwa akan tiba suatu masa di mana kalian dipertemukan dan mengulang kembali kegilaan yang pernah terjadi.

via: www.ibtimes.co.in
via: www.ibtimes.co.in

Karena keharusan mencapai ini dan itu pada setiap orang berbeda, membuat rasa pertemanan tak seperti dulu lagi. Frekuensi pertemuan juga tak serapat dahulu. Namun tak mengapa, karena seiring bertambahnya usia, manusia memang selalu dihadapkan dengan keharusan yang berbeda.

Jangan bersedih. Dorong mereka untuk meraih mimpinya, dan kejar pula mimpi-mimpimu. Percayalah bahwa kelak kalian akan dipersatukan, dan diijinkan merasakan kembali kegilaan, sembari bernostalgia dengan masa lalu.

6. Orang yang sama, tak akan lagi sama. Pertemuanmu dengan mereka di kemudian hari, akan menjadi percakapan panjang yang tak cukup bila hanya diberi waktu sehari-semalam.

via: www.outlish.com
via: www.outlish.com

Kamu adalah orang yang sama. Namun dengan berjalannya waktu, tentu kamu tak akan menjadi orang yang sama, saat terakhir kali bertemu dengan teman-temanmu. Ini juga berlaku dengan mereka.

Agendakanlah pertemuan saat kalian sedang mengalami libur bersama. Sekadar jalan-jalan atau ngopi, pasti tak akan cukup untuk menceritakan apa saja yang terjadi dalam hidupnya dan hidupmu selama kalain berpisah.

Jadi, Kawan Muda, sudah tak ada lagi niat untuk gegalauan gara-gara ditinggal teman, kan?