Kepada jodohku yang aku belum tahu siapa kamu, tapi telah Tuhan sandingkan nama kita sejak dahulu

sendiri
Image Credit : www.goodhousekeeping.com

Aku percaya, bahwa engkau adalah nama yang telah lama Tuhan tuliskan, dan sengaja disandingkan denganku. Hatimu mungkin pernah dimiliki oleh seorang yang lain, begitu pula hatiku. Namun itu semua semata karena kebimbanganku akan sosokmu, wahai jodohku. Kebimbangan akan jawaban dari sebuah pertanyaan:

“Tuhan, siapakah gerangan manusia yang namanya Engkau tulis dan sandingkan dengan namaku?”

Aku selalu berpikir bahwa bagaimana aku mengelola pikiran, ucapan, hati dan perlakuan, maka seperti itulah engkau mengelola dirimu sendiri. Artinya, bila aku dengan sengaja mencederai diriku sendiri dengan perbuatan-perbuatan yang mengkhianati nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, maka dirimu pun demikian. Tak jarang aku sering berhati-hati akan hal ini, karena aku sangat tak ingin melihatmu juga berlaku demikian.

Wahai jodohku, seseorang yang sejak dahulu namanya telah Tuhan sandingkan denganku, baik-baiklah di situ. Di sini, setiap hari, aku tak pernah lelah menyebut namamu dalam doa, mulai dari pagi buta hingga senja. Bila engkau bertanya padaku:

“Mengapa di malam hari engkau tak berdoa untuk kebersamaan kita?”

Maka jawabanku:

“Maaf, Sayang. Kalau malam, aku tidur.”

Percayalah, bahwa sebelum tidur pun aku mendoakanmu, dengan harapan bahwa ketika tidur aku dapat memimpikanmu. Seseorang datang dan pergi dalam mimpiku. Sampai-sampai, aku tak tahu: “Engkau yang mana, Sayangku?” begitu aku bertanya setiap kali bangun dari tidur malamku.

Mendengar pertanyaanku sendiri setiap bangun tidur, tak lama kemudian hati dan pikiranku selalu berbisik:

“Yang manapun, ia adalah orang yang sesuai denganmu!”

Lalu aku merasa tenang dan bahagia, dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa, merapal doa-doa, serta berharap hal-hal baik datang kepada kita.

Wahai jodohku, seseorang yang sejak dahulu namanya telah Tuhan sandingkan denganku, baik-baiklah di situ. Di sini aku selalu mendoakanmu.