Kamu anak pertama atau terakhir? Yuk kenali kepribadian seseorang berdasarkan urutan lahir

anak
Image Credit : Favim.com

BTW, kamu anak keberapa gaes?

Pertama, tengah-tengah atau terakhir ?

Menurut sebuah riset, urutan kelahiran bisa mempengaruhi kepribadian seseorang. Para pakar psikologi manusia menyebutkan, hal ini juga ada pengaruhnya dengan bagaimana orang tua memperlakukan anak-anak mereka. Meskipun ketika orang tua ditanya mana anak yang paling disayang dan jawabannya adalah semua anak mereka, namun fakta menunjukkan hal yang berbeda.

BACA JUGA : Surat cinta untuk anak ayah yang mengaku dewasa

Sebagai contoh, ada 3 anak dalam sebuah keluarga, tiap anak memiliki sudut pandang sendiri-sendoro untuk mengenal orang tua mereka. Tanpa mereka sadari orang tua juga memperlakukan anak-anak mereka dengan berbeda.

Supaya lebih jelas, yuk Kita Muda kasih penjelasan lebih dalam lagi :

#1. Anak pertama adalah anak yang mandiri dan bisa diandalkan

via: www.huffingtonpost.com
via: www.huffingtonpost.com

Ketika dalam suatu keluarga melahirkan anak pertama, seluruh perhatian orang tua akan tercurah pada anak tersebut. Segala yang dimiliki mereka berikan kepadanya. Tapi, hal ini juga dibarengi dengan harapan tinggi terhadap anak tersebut. Orang tua cenderung perfeksionis dan berusaha memberikan pelajaran ini itu demi kebaikan anak pertamanya.

Yang kemudian terjadi adalah, hal ini dapat mempengaruhi pribadi anak yang mengubahnya menjadi sosok bertanggung jawab, perfeksionis, mandiri dan dapat diandalkan. Hal ini ia dapatkan karena contoh langsung dari orang tua yang membersarkannya. Maka tak heran anak pertama selalu lebih berani menjadi sosok pemimpin dan merasa dicintai keluarganya.

#2. Anak yang lahir tengah-tengah adalah anak yang suka menyenangkan orang lain

via: youtube.com
via: youtube.com

Beda cerita dengan anak tengah atau anak kedua tapi bukan terakhir. Perhatian orang tua harus cukup adil dengan anak-anaknya. Pada anak kedua, perhatian orang tua juga sudah mulai berbeda dari sebelumnya.

Dalam kasus ini, orang tua cenderung mengajarkan kedua anaknya saling berbagi dalam banyak hal. Sama halnya dengan orang tua yang membagi kasih sayangnya untuk anak- anak mereka. Hal inilah yang bisa mempengaruhi karakter anak ‘tengah’ yang sejak kecil diajarkan untuk bersikap adil. Misalnya saling berbagi, bersikap netral, peacemaker dan senang menyenangkan hati orang lain.

BACA JUGA : Tak melulu manja, ini dia 8 kelebihan yang hanya dimiliki oleh anak bungsu! Berbanggalah kamu yang menjadi bontot

Kepribadian yang hangat ini memicu anak tengah menjadi sosok yang digemari banyak orang, mudah bersosialisasi dan mampu beradaptasi dengan baik. Namun anak tengah juga bisa menjadi agresif ketika memiliki adik yang terlalu disayang dan orang tua tidak bisa bersikap adil terhadapnya.

#3. Anak terakhir adalah anak yang paling woles    

kerja keras
Foto : ronalvesteffer.com

     

Terlepas dari image yang diekspektasikan tinggi seperti anak pertama, anak terakhir menjadi sosok yang lebih santai hidupnya. Anak bontot adalah anak yang paling kecil dan termuda di keluarga. Semua anggota keluarga akan sangat menyayangi dan memanjakannya layaknya anak kecil.

Perilaku orang tua pun menjadi lebih santai dan penuh toleransi. Nggak heran anak terakhir ini, terbentuk menjadi seseorang yang menyenangkan, woles, kreatif dan senang bergaul. Soalnya sedari lahir sudah banyak yang memperhatikan. Alhasil ia tumbuh menjadi orang yang selalu mendapat perhatian dan selalu ingin diperhatikan. Bahkan terdapat studi yang menyatakan, anak terakhir cenderung berhasil di bidang-bidang kreatif.

#4. Anak tunggal adalah anak kombinasi antara pertama dan terakhir

cewek
Foto : 7-themes.com

Anak tunggal adalah anak yang karakternya bermacam-macam, mungkin cocok disebut sebagai anak kombinasi. Di mana anak tunggal ini perpaduan antara karakter anak pertama dan terakhir.

Di satu sisi, orang tua memiliki harapan besar karena dia merupakan anak satu-satunya. Orang tua mengajarkan banyak hal untuk membuatnya lebih kuat dan mampu berjuang sendiri. Sehingga anak tunggal cenderung menjadi pribadi yang dewasa dan bisa diandalkan.

Namun di sisi lain orang tua juga memperlakukannya dengan penuh perhatian dengan alasan yang sama yakni ‘karena anak satu-satunya’. Sehingga dia juga tumbuh menjadi anak yang selalu ingin diperhatikan, membutuhkan orang lain untuk memberikan dukungan dan cenderung sensitif.