6 Alasan kenapa orang Indonesia sering menulis gelar akademik di undangan pernikahan

gelar di undangan pernikahan
Image Credit : www.wawker.com

Menikah adalah imbas dari pertemuan antara dua manusia, yang kemudian disatukan. Menikah adalah satu-satunya hal yang semula haram, bisa menjadi halal. Kalau semula melihat lawan jenis itu dianggap sebagai dosanya mata, maka setelah menikah semuanya berubah jadi ibadah. Bahkan, menaiki pasangan serta saling bergumul di atas ranjang pun dihitung sebagai ibadah. Nikmat mana yang kamu dustakan, Kawan Muda?

Tetapi ada satu hal yang cukup menggelitik dalam pernikahan di Negara kita tercinta ini. Sebetulnya, ada banyak hal yang merupakan keunikan dari Indonesia. Tetapi, pada artikel kali ini Kita Muda hanya akan membahas tentang undangan pernikahan saja.

BACA JUGA : 6 Reaksi lelaki ketika diajak menikah sama pacar

Kalau Kawan Muda sering memperhatikan, pada undangan pernikahan seringkali terdapat nama mempelai yang disertai gelar. Ini menggelitik, memang. Buat apa coba? Maka dari itu, melalui artikel ini Kita Muda ingin mengulasnya.

1. Kedua keluarga dan kedua mempelai, menganggap bahwa gelar adalah tanda keduanya sepadan dan serasi.

Sebetulnya, gelar itu tak berbanding lurus dengan bagaimana mereka berdua kelak membina bahtera rumah tangga. Karena itu semua merupakan hal-hal yang berbeda dan ada ilmunya masing-masing. Tetapi, kedua keluarga maupun kedua mempelai, pasti bangga apabila mendengar ucapan semacam:

Wah, yang mempelai wanita gelarnya DR, dan yang mempelai pria gelarnya Ph.D. Cocok banget deh. Bila kelak mereka berdua memproduksi generasi, pasti hasilnya adalah generasi-generasi yang cemerlang.

Orangtua dan manusia macam mana coba yang tak suka dengan pujian semacam itu?

BACA JUGA : Menikah itu perkara mudah, tapi membuat hubungan rumah tangga harmonis butuh kerja nyata

2. Adakalanya, memang kedua mempelai yang enggan, tetapi orangtua kedua mempelai mendesak agar disematkan.

Generasi-generasi masa kini, sebetulnya adalah generasi yang malas soal begini-beginian. Memasang gelar di undangan, dan semacamnya. Generasi masa kini, lebih suka menampakkan kerja nyata, beserta pencapaian-pencapaian nyata.

Tetapi kalau yang meminta adalah kedua orangtua, apalagi dari kedua mempelai pula, ya mau bagaimana lagi? Anak hanya bisa nurut. Tentu, salah satu alasannya, karena mereka berdua takut apabila dikutuk menjadi batu oleh ibu mereka masing-masing.

3. Sebagai wujud kebanggaan karena telah sekolah tinggi-tinggi, dan sanggup menyelesaikan tantangan yang akademik berikan, hingga memperoleh gelar.

menikah
Foto : www.youthmanual.com

Semua orang bisa memulai kuliah, tetapi kalau menyelesaikan kuliah sampai memperoleh gelar? Tak semua orang sanggup. Sudah banyak cerita yang mengisahkan orang-orang yang berhenti di tengah jalan, tak melanjutkan pendidikannya. Jadi, betapa lulus itu sesuatu yang memang bisa dibanggakan, dan dianggap sebagai pencapaian prestisius. Yah, meskipun Kawan Muda juga pasti tahu kalau gelar yang diperoleh tak berpengaruh dengan pekerjaan.

Sehingga wajar, kalau proses lulus yang demikian berat itu, kemudian diwujudkan oleh kebanggan dengan memasang gelar yang telah diraihnya, pada undangan pernikahan mereka.

BACA JUGA : Meski sedang tren menikah muda, ini dia 7 kebaikan yang kamu dapatkan jika menikah setelah usia 25 tahun

4. Rezeki, kadang datang dari arah yang tak disangka-sangka. Ia bisa datang dari relasi yang hadir pada acara resepsi.

Katakanlah, pada undangan pernikahan, kamu menulis namamu beserta embel-embel S. Kom (Sarjana Komputer). Lalu saat para tamu bersalaman dengan mempelai, ada seorang tamu yang sembari salaman, ia juga berbisik kepadamu begini:

Hey, kamu, pengantin baru yang gelarnya ditulis pada undangan pernikahan, apakah kamu sudah bekerja?

Kemudian kalau kamu berbisik balik dengan ucapan:

Belum. Ada lowongan?

Ada!

Maka di inilah yang namanya rezeki yang kedatangannya dari arah yang tak disangka-sangka. Tentu, si tamu tersebut tak akan menawarkan lowongan pekerjaan kepada mempelai kalau si mempelai tak mencantumkan nama dan gelarnya pada undangan.

5. Meski gelar tak berbanding lurus dengan penghasilan, tetapi gelar menandakan seseorang sudah mapan dan matang dalam berumah tangga.

pasangan mapan
Foto ;:bagikanberitaterkini.blogspot.com

Mungkin saja, kedua mempelai, saat menikah masih menganggur. Mungkin saja, saat menikah, keduanya masih bekerja serabutan. Tetapi setelah menikah, tentu keduanya akan merasa tertekan dan memiliki keharusan untuk mencari pekerjaan. Nah, di sinilah peran gelar: sebagai senjata.

Mencantumkan gelar pada undangan pernikahan, setidaknya membuat orang-orang yang diundang memiliki ketenangan, bahwa keduanya sama-sama telah meraih gelar. Jadi, tak perlu banyak-banyak risau soal masa depan mereka akan bagaimana nantinya.

6. Gelar pada undangan pernikahan adalah tanda bahwa seseorang layak diperhitungkan di masyarakat.

Saat menikah, tentu tak hanya saudara dari kedua mempelai saja yang datang. Pasti ada masyarakat sekitar, tempat kelak kamu beserta pasangan akan tinggal, yang juga diundang untuk datang ke resepsi pernikahan.

Mungkin saat kamu merantau dan tinggal di kota yang isinya para kaum intelektual, kamu menganggap bahwa ternyata orang-orang pintar di dunia ini banyak sekali. Tetapi setelah kamu kembali dari merantau, dan membaur dengan masyarakat tempat di mana kamu lahir, kamu akan sadar bahwa ternyata orang-orang yang memperhatikan pendidikan bisa dihitung dengan jari. Tentu, ini beda kasus kalau kamu tinggalnya di kota loh ya.

Nah, dengan ini, masyarakat yang datang ke resepsimu akan menganggap kalau keberadaanmu di tempat mereka layak untuk diperhitungkan. Apalagi kalau bukan untuk membangun masyarakat agar menjadi lebih baik? Ingatlah bahwa tempat menimba ilmu itu merupakan medan pelatihan, dan lingkungan masyarakat adalah medan perang yang sesungguhnya.

Hey kamu yang sudah menikah dan sempat mencantumkan gelar pada undangan pernikahanmu, mana nih poin-poin di atas yang cocok dengan tujuanmu mencantumkan gelar pada undangan pernikahan? Atau, menurut kamu, penting nggak sih sematin gelar di undangan pernikahan?