7 Ajakan yang biasanya berakhir jadi wacana. Kamu pernah mengalaminya?

cuma wcana
Image Credit : www.lifehack.org

Kumpul-kumpul itu kesukaannya orang Indonesia. Coba, hitung, ada berapa banyak kumpul-kumpul yang orang-orang negeri ini ciptakan? Ada arisan, kumpul lebaran, gathering organisasi atau komunitas, kopdar, dan banyak lagi. Jadi, Kawan Muda, mari kita bernyanyi:

“…itulah Indonesia…”

Kumpul-kumpul, memang berdampak baik. Karena silaturahim bisa mendatangkan banyak rezeki dalam beragam bentuk: relasi, pekerjaan, bisnis, dan bahkan jodoh. Tapi jangan salah, tak semua acara kumpul-kumpul itu selalu berbuah sukses. Ada yang tidak, dan bahkan banyak di antaranya yang berakhir menjadi wacana. Apa saja kira-kira? Kita Muda menyajikannya, nih:

1. Awalnya bilang minta bantuan, lalu berjanji mentraktir setelahnya. Tapi setelah dibantu, eh enggak tahu ngeloyor ke mana.

sudah punya pacar
Foto : hugoingablog.com

Ya, begitulah. Sama halnya dengan orang yang mau berhutang: selalu berbaik hati tatkala butuh, lalu bila ditagih ilang-ilangan.

Kebiasaan orang meminta bantuan pun juga sering begini: menawarkan ini dan itu. Salah satunya, berjanji mau mentraktir. Namun setelah dibantu, eh malah raib entah ke mana.

2. Di grup chat koar-koar ngajakin bukber, setelah ditunjuk jadi coordinator, eh nyungsep tak berjejak.

buka bersama
Foto : aswadmansur.wordpress.com

Ini yang paling sering terjadi pada kaum kekinian kita. Ngobrolnya di grup chat panjang-panjang, rencananya ini dan itu, begini dan begitu, tetapi saat ditunjuk untuk menjadi coordinator, malah mundur teratur seperti tanpa jejak.

3. Selain bukber, rencana reuni juga kerap mengalami hal yang sama: gagal dan berakhir jadi wacana.

boros jajan
Foto : www.rd.com

Pasti banyak banget nih Kawan Muda yang mengalami akan hal ini. Penyakit tahunan, memang. Fatalnya, kita-kita yang jadi pihak ikut menanggapi saat obrolan di grup chat berlangsung, kok ya mau-maunya jadi orang yang antusias, padahal tahu kalau setelahnya, rencana ini enggak bakal ke mana-mana. Jadi, besok lagi, kalau ada yang mau mengajak bukber, bilang saja:

“Cie… ada yang lagi mau bikin wacana… cie…”

4. Saat tahu bahwa manfaat olahraga itu tak hanya menyehatkan badan saja, niat mengajak olahraga menggebu-gebu. Tapi pas diajak olahraga beneran, ada saja alasannya.

olahraga
Foto : wallpapers-hd-wide.com

Ini biasanya efek setelah ikut acara-acara motivasi yang materinya tentang pentingnya olahraga. Atau, baru saja membaca artikel tentang manfaat-manfaat olahraga bagi kelangsungan tubuh. Pikirannya sudah membayangkan entah sampai mana, bahkan sampai mengajak teman-teman untuk janjian olahraga, namun setelah dihubungi pada hari yang telah direncanakan, ada-ada saja alasan untuk membatalkannya.

5. “Biar pikiran tak stres, kita butuh liburan!” kata yang lagi semangat liburan, tapi aslinya malas liburan beneran.

sunsest
Foto : Instagram @pugardono

Saat merencanakan, pikiran sudah membayangkan: bagaimana ya nanti ketika sampai di tempat liburan? Wah, pasti pasirnya putih nan lembut. Wah, pasti nanti di sana aku bisa melihat fosil. Dan semacamnya.

Namun sebelum berangkat, pikiran sudah dihantui oleh perasaan bahwa ternyata liburan itu ribet, harus menyiapkan ini dan itu. Akhirnya, gagal deh liburannya, dengan beragam alasan.

6. Mengajak sesama teman yang gemuk untuk diet bareng. Pertama-tama, semangat. Selanjutnya, melempem!

diet
Foto : www.medicaldaily.com

Coba lihat, sudah berapa banyak orang gendut di muka bumi ini yang excited banget untuk mengikuti program diet, membentuk komunitas untuk diet, mengurangi pola makan ini dan itu, lalu setelah berhasil turun berat badannya, memilih untuk merayakan itu semua dengan makan-makan daging? Yah, lemak bakal balik kalau begitu caranya. Kalau balik beneran berat badannya, atau malah lebih daripada berat badan semula, lalu kecewa, kesal, dan enggan sok-sokan lagi ikutan program diet.

7. Belagu ngajakin balapan nikah, eh ternyata enggak nikah-nikah juga.

menikah
Foto : jawapos.com

Dalam hidup Kawan Muda sekalian, setidaknya ada dua atau tiga orang semacam ini yang kalau ngomong, bahasannya menikaaaaaaaaaaaaah melulu. Membahas indahnya membangun bahtera rumah tangga kayak di film-film. Yaelah, padahal, menurut orang-orang yang telah lama merajut biduk rumah tangga, enggak gitu-gitu amat. Biasa aja, katanya. Bedanya, kalau kemarin kau tidurnya sendiri, sekarang tidurnya ada yang nemenin. Walau kadang naikin juga.

BACA JUGA : Meski sedang tren menikah muda, ini dia 7 kebaikan yang kamu dapatkan jika menikah setelah usia 25 tahun

Di antara wacana-wacana yang kerap terjadi pada masyarakat kita di atas, manakah yang paling sering menimpa hidupmu, Kawan Muda sekalian?