Tidak pilih-pilih teman, sama dengan memilih teman yang tidak dipilih. Maka, pilihlah teman!

sahabat sejati

Iya, Kita Muda tahu kok. Kamu pasti sedang membaca judul di atas dengan diliputi perasaan bingung: ini maksud judulnya apaan ya? Kok kayak muter-muter gini.

“Tidak Pilih-Pilih Teman, Sama Dengan Memilih Teman Yang Tidak Dipilih. Maka, Pilihlah Teman!”

Maksudnya begini, dalam hidup, kita enggak bisa yang namanya enggak pilih-pilih pada sesuatu. Harus pilih-pilih. Harus. Soal mau sekolah di mana, berangkat dari rumah ke sekolah naik apa, di sekolah mau jajan siapa, eh maksudnya jajan apa, dan banyak hal dalam hidup ini yang semuanya adalah pilihan. Tidak bisa tidak. Maka logika ‘tidak pilih-pilih sama dengan memilih yang tidak dipilih’ adalah jelas.

Baca Juga : 7 Hal yang perlu kamu tahu dari seorang penyendiri

Contoh simpel, saat melihat banyak pedagang, kamu bilang:

“Aku orangnya kalau jajan enggak pilih-pilih kok.”

Kemudian secara random kamu mendatangi seorang penjual cilok. Nah, sejatinya, itu kamu sedang memilih. Kan, enggak bisa kan? Makanya harus pilih-pilih pada semua hal. Agar yang terpilih adalah yang baik-baik. Karena yang baik-baik, akan dikonsumsi oleh isi pikiranmu dan isi perutmu. Isi pikiranmu, ia akan mewujudkan perilakumu. Isi perutmu, ia akan menghasilkan makanan pokok bagi lele. Maka jika yang kamu masukkan ke dalam pikiran dan perut tidak baik, otomatis output yang dihasilkan pun tak baik. Ini juga berlaku sebaliknya. Termasuk, dalam memilih teman.

Pada artikel kali ini, Kita Muda menyajikan artikel yang membahas tentang cara memilih teman, sekaligus panduan untuk menjaga hubunganmu dengannya agar tetap baik, lalu mengubah yang tadinya teman menjadi sahabat. Mari kita mulai:

Pilih teman yang bisa memberimu pengalaman menyenangkan.

persahabatan
Foto : www.spectator.co.uk

Berteman dengan orang-orang yang kepada hari-harinya sendiri saja garing, otomatis jika kamu memutuskannya untuk menjadikan teman, maka kebiasaan tersebut bakal berdampak padamu.

Memilih teman yang memiliki banyak pengalaman menyenangkan dapat membuat hari-harimu berwarna, dan bahkan penuh tantangan. Kamu selalu terpacu untuk menjadi orang yang lebih baru, dengan pribadi yang lebih maju, setiap harinya.

Baca Juga : Kalau tanda-tanda ini sudah ada pada temanmu, berarti dia layak naik level menjadi sahabat terbaikmu

Pengalaman menyenangkan di sini cakupannya luas, ia bisa berarti: membuatmu bersedia bangkit menghadapi hidup, ia bisa membuatmu bersedia untuk mulai membuka bisnis, ia bersedia membuatmu untuk lebih dalam berpikir untuk lebih banyak melakukan investasi untuk leher ke atas, ketimbang leher ke bawah. Maksudnya, memperkaya SDM, dibanding memperbagus tampilan leher ke bawah.

Teman yang memberi energi positif.

Diakui atau tidak, bahan bakar positif yang ada dalam diri kamu itu berasal dari pantulan positif yang orang lain miliki. Atau, media (seperti buku, film, dan lain-lain) yang kamu lahap. Bahan bakar yang kamu ijinkan untuk masuk menghiasi pikiranmu tersebut, akan menjadi apa yang paling dominan kamu pikirkan. Maka ketika ilmuwan fisika teoretis terbesar pada abad ke-20 yang kita kenal dengan nama Albert Einstein berkata:

“Anda adalah apa yang Anda pikirkan.”

Berarti benar. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan berasal dari apa yang kita ijinkan masuk dalam pikiran. Maka memilih-milih teman yang memiliki energi positif merupakan sebuah upaya untuk menjaga pikiranmu agar tetap membaik.

Baca Juga : Ketika pikiran banyak dirasuki hal-hal negatif, sudah saatnya kamu rutin melatih kebiasaan ini agar menjadi pribadi yang positif

Teman adalah prioritas hidup. Luangkan waktu untuk bertemu mereka sesibuk apa pun.

sahabat
Foto : mubi.com

Kalau 2 poin di atas membahas tentang pilih-pilih teman, bisa dibilang 2 poin di atas cakupannya sudah lengkap untuk dijadikan patokan dalam memilih teman. Karena meskipun hanya 2 poin, turunan poinnya, kalau dibahas, bisa menjadi 2 atau 3 artikel. Maka untuk mempersingkat, selanjutnya Kita Muda akan membahas bagaimana menjaga teman yang sudah kamu peroleh tersebut.

Kunci dari asmara yang hidup ialah rutinnya pertemuan dan komunikasi yang terjalin. Hal tersebut juga berlaku pada pertemanan. Untuk menjaga agar pertemanan tetap hidup, maka masukkanlah teman sebagai prioritas hidup, yang dalam menjaganya, dibutuhkan pertemuan-pertemuan yang tentu untuk mengaplikasikannya membutuhkan waktu. Jadi, luangkanlah. Jangan jadi orang yang hanya datang kalau sedang butuh saja. Tapi jadilah teman yang datang dan selalu ada dalam keadaan apa pun.

Jalin pertemanan yang menyenangkan dengannya.

Pertemuan-pertemuanmu kepada mereka adalah kuantitas. Sedangkan bagaimana kamu mengisinya saat pertemuan tersebut berlangsung, adalah kualitas. Kuantitas terasa tak begitu penting tanpa adanya kualitas. Sementara, kualitas bisa hadir kalau lebih dahulu ada kuantitas. Jadi, keduanya saling berkaitan.

Untuk menjalin pertemanan yang menyenangkan dengannya, kamu bisa melakukannya dengan cara menyelipkan humor saat berinteraksi dengannya. Tidak perlu humor-humor yang butuh mikir keras. Cukup humor-humor receh saja. Atau kalau memang kamu pandai merangkai kalimat dan keadaan untuk dijadikan humor yang mikir, ya enggak apa-apa. Itu lebih baik. Berarti teman kamu beruntung, memiliki teman seorang komedian.

persahabatan
Foto : www.thinglink.com

Atau kalau kamu merasa sebagai pribadi yang garing, keasikan juga bisa dihadirkan melalui piknik bareng, rafting bareng, dan melakukan seru-seruan lainnya. Kalau bisa, jangan cuma berdua. Karena kalau kamu dan dia berjenis kelamin sama, memutuskan untuk jalan berdua itu sama halnya dengan memicu hadirnya fitnah dalam pikiran banyak orang.

Jangan hanya memberi pujian. Karena sahabat, selain memuji, ia juga memberi kritik yang disertai saran.

Sebetulnya, level teman itu masih kulit. Ia hanya akan memberi pujian dan pujian saja. Kalau mengobrol pun, hanya berbasa-basi. Seperti janji Kita Muda di awal, sebelum masuk ke poin-poin, ialah membahas tentang cara memilih teman, sekaligus panduan untuk menjaga hubunganmu dengannya agar tetap baik, lalu mengubah yang tadinya teman menjadi sahabat. Maka 2 poin terakhir inilah yang akan menjadikanmu dengan sebagai sahabat.

Ya, teman hanyalah memuji, dan kalau bicara hanya berbasa-basi. Namun sahabat, tidak. Selain pujian, ia juga akan memberikanmu satu paket dengan kritik. Tentu, kritik yang disertai saran. Maka, jadilah sahabat yang memuji dan mengkritik secara jujur, lalu menyodorkan saran secara benar, sebagai tindak lanjut agar dijadikan solusi atas permasalahan.

Baca Juga : Sepucuk surat untuk diri sendiri yang masih sering mengeluh

Karena mencari sahabat itu susah, hilangnya kadang malah mudah: Cuma gara-gara omongan.

sahabat
Foto : www.dgreetings.com

Meski sudah berubah menjadi sahabat, tidak lantas membuatmu bebas untuk bicara seenaknya dengan dia. Tetap harus ada batasan-batasan yang harus kamu hormati.

Tahukah kamu, pada berkilo-kilo pasir yang mengandung emas, emas yang terkandung di dalamnya hanyalah beberapa gram saja. Tidak semuanya akan menjadi emas. Begitulah sahabat. Pertemuanmu padanya adalah hasil dari waktu-waktu yang kamu korbankan untuk bertemu dengan orang-orang yang tidak sesuai. Atau kalau boleh jujur, mereka adalah pasir, dan orang-orang yang kemudian naik level menjadi sahabatmu, adalah emas. Maka sebagaimana emas diperlakukan, kamu haruslah menjaganya dengan baik.

Sahabat, kadang bisa hilang hanya gara-gara salah bicara. Melontarkan sesuatu yang menurut pendapat pribadi, biasa saja, namun bagi pihak yang menerima menjadi begitu menyakitkan. Untuk mengetahui hal ini, tentu kamu harus paham batasan-batasan apa saja antara kamu dan sahabatmu. Baik itu batasan-batasan yang dengan sengaja kamu dan dia sepakati, atau batasan-batasan yang kamu tahu berdasarkan feeling saja. Batasan yang kamu tahu apakah akan berdampak menyenangkan baginya, atau menyakitkan baginya. Ini tidak ada patokan pasti, karena setiap sahabat memiliki pakemnya masing-masing. Selamat menemukan. Semoga persahabatanmu dengannya, bertahan hingga akhir hayat.